STAGE 7. THE LOVELY HAPPY ENDING

| Sabtu, 24 Agustus 2013 | 0 komentar |

“heee….” Ujar Leon sambil mengangguk.
“gimana?? Masa kau tak pernah mendengar cerita ini?” Ujar Ethan.
Leon mengangkat bahunya. “ tak pernah…” ujarnya.
“ehhh… kemana saja kamu selama ini?” ujar Maria tak percaya.
“ah, sudahlah… yang penting, oke, itu cerita yang bagus… yang lain bagaimana?” ujar Leon melihat siswa lainnya.
Semua murid dalam kelas agak ribut dan mulai berbisik-bisik. Gumaman mulai terdengar kembali. Leon memperhatikan seluruh isi kelas. Sepertinya akan ribut lagi, pikirnya, dan jujur saja ia mulai kesal apabila kelas ini ribut kembali. Kemudian ia berdeham agak keras sebagai komando untuk mengurangi keributan. Kelas terdiam, dan seluruh murid menoleh pada Leon.
“jadi…?” tanya Leon kembali.
“cukup bagus kaaan..?? cerita itu populer, cerita cinta juga banyak diminati oleh orang-orang bahkan remaja…” ujar Maria menambahkan dengan riang.
Kelas kembali penuh dengan gumaman, bisik-bisik. Sepertinya seluruh isi kelas tau apa tujuan Maria mengajukan cerita itu. Rasa suka Maria pada Leon telah ditunjukkan dengan sangat jelas oleh Maria, namun Leonlah yang tidak peka menanggapi luapan cinta dari Maria. Semua siswa di kelas kurang setuju sebenarnya dengan cerita itu, karena pada akhirnya Maria akan meminta Leon dan dirinya untuk memerankan peran utama. Namun, jika mereka menolak, Maria akan sangat membenci mereka. Pada akhirnya tak ada pilihan lain selain menyetujui pilihan Maria itu. Sedangkan para siswi sangat antusias dengan ide cerita itu, karena cerita romantis seperti Ice and Snow adalah cerita idaman para gadis. Tentu saja mereka rela bersaing untuk mendapatkan peran utama wanita yaitu Freedert. Akhirnya, kelas kembali ribut. Dan, saat untuk kedua kalinya Leon berdeham, kelas kembali hening dan menyuarakan kata setuju dengan serempak.
“jadi, semua setuju?” ujar Leon sekali lagi.
“cerita itu boleh juga, cukup bagus kan?” ujar Ethan.
“ya, oke… “ ujar seluruh kelas.
“tapi bukannya itu membosankan?” ujar suara dari pojok belakang kelas. Semua siswa menoleh dan melihat Lucille tengah memandang mereka dengan tatapan bosan.
* * * * *
Lucille melihat kearah Leon dan Maria. Ia mendengus pelan. Ahh, bosan… pikirnya. Cerita cinta yang seperti itu tentu saja terlalu berlebihan, terlalu dilebih-lebihkan, tentunya. Itu hal yang lumrah, didunia ini tak ada cerita cinta yang semulus dan selancar itu. Lucille kembali mendengus pelan dan berat. Ia melihat kearah teman-temannya yang sangat tertarik dan bersemangat akan ide Maria mengenai Ice and Snow itu.
“tapi, bukannya itu membosankan?” pada akhirnya Lucille tak sadar akan apa yang terucap dari mulutnya.
Ia sendiri terkaget kalau ia mengucapkan apa yang ia pikirkan dengan keras. Seluruh pasang mata memandang kepadanya. Ia hanya menarik bibirnya dan berusaha tersenyum, tapi yang keluar hanya cengiran konyol. Ia melihat kearah Maria, dan ia merinding, ia sadar bahwa Maria memandang penuh dengan permusuhan padanya.
“apa maksudnya itu?” ujar Maria datar.
“ehm… yah… tak ada maksud apa-apa…” ujar Lucille konyol sambil menggaruk kepalanya.
“terus, apa maksudmu!” ujar Maria kesal.
“maksudku? Ah… yaa… maksudku,, ya yang aku katakana…” ujar Lucille akhirnya. Ia masih mencoba menenangkan pikiran. Aggghh… sudah terlanjur, tak bisa mundur… pikirnya.
“maksudmu, cerita yang aku tawarkan itu membosankan?!” bentak Maria tak sabar.
“bukan…” ujar Lucille akhirnya.
“terus..?!” sambung Maria.
“stop,” suara Leon menggema.
“cukup sudah, dengan keributan dan pertengkaran… kita kesal, jadi jangan emosi..” sambung Leon dengan nada ditekankan pada kata emosi dan kesal. Maria kaget dan menoleh pada Leon, Lucille juga tak kalah kaget. Ia memandang Leon dan mendapati Leon juga memandang kearahnya dengan tatapan meminta penjelasan. Lucille kemudian memandang Maria yang tengah terdiam menahan amarahnya dan melirik kepada Lucille dengan tatapan membara. Lucille hanya mengalihkan pandang dengan enggan. Ini merepotkan, pikirnya. Kemudian ia mendapati Ethan tengah menanti jawaban dengan tampang bosan. Tampangmu itu bikin sebal, pikir Lucille.
“aargh… ini merepotkan…” gerutu Lucille akhirnya dengan mengibaskan rambutnya kebelakang.
“jadi?” tanya Leon menunggu penjelasan.
“hmmm… bukan maksudku bilang kalau cerita itu membosankan… tapi, tidakkah kalian pikir, menyadur cerita dan menjiplak cerita itu 2 hal yang berbeda?” jelas Lucille. Hampir seluruh isi kelas bingung apa maksud Lucille. Lucille hanya mendengus lebih berat.
“kalau kita pakai cerita Ice and Snow asli, itu namanya menjiplak… lagian, kalau pakai cerita asli orang akan tau bagaimana cerita itu akhirnya, mana bisa begitu dibilang membuat penonton terpaku?” jelas Lucille kembali.
Sepertinya teman-temannya mulai menanggapi apa yang Lucille inginkan, kelas mulai berbisik-bisik dan beberapa siswa mengangguk setuju. Leon melihat sekitarnya dan melihat Maria yang mengajukan judul itu, berjaga jika Maria akan murka dan memulai keributan dengan Lucille. Mereka berdua dengan terang-terangan menampakkan rasa bersaing. Dan Leon tak habis pikir apa yang mereka rebutkan. Tapi Leon melihat Maria tak menunjukkan tanda-tanda terganggu dengan ide itu. Maria terlihat juga mempertimbangkan apa yang dikatakan Lucille.
“kurasa itu benar juga” ucap Ethan.
“iya juga sih… tak mungkin jadi pentas yang membuat penasaran ya…” ujar Maria akhirnya.
Leon lega, karena ternyata Maria cukup bisa membaca kondisi ini. Dan sebenarnya, ia sangat lega tak harus terlibat pertengkaran yang menyebalkan. Akhirnya ia mulai memikirkan ide yang diajukan oleh Lucille. Ia pikir, memang benar jika hanya mementaskan apa yang telah sering didengar, dibaca atau dilihat oleh penonton, penonton akan bisa menebak dan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Itulah yang akan membuat penonton bosan. Itu tak mungkin menjadi pentas yang memukau. Jadi, mau tak mau, mereka harus menambah beberapa kejutan yang keluar dari jalur cerita. Tapi, jika ditambah beberapa adegan, itu akan mempengaruhi adegan lain dan akan sulit untuk menyesuaikannya. Untuk kesekian kalinya Leon bingung mencari solusinya.
“jadi? Apa yang kau ajukan sebagai solusinya, Mortmaiden?” ucap Maria tiba-tiba.
“hmmm… karena menurutku cerita itu terlalu sering direvisi dan diperbaiki disana-sini, tentu saja cerita itu jadi sangat berlebihan dan cenderung membosankan…” jelas Lucille.
“yaah… kurasa juga begitu…” ujar seorang siswa lain.
“iya, adikku juga menganggap itu membosankan karena jalan ceritanya tak masuk akal…” ujar yang lainnya.
“kenapa kok tidak masuk akal?” ujar Ethan.
“yaah, karena kan tidak ada kisah cinta yang begitu lancar seperti di Ice and Snow…” ujar Leon.
“akh!! Aku baru menyadarinya!!” ujar Ethan kaget.
“plus 20 poin untukmu, Fortistert!” sambungnya.
“poin?” tanya Lucille, melirik ke Ethan.
“buat apa poin ini?” tanya Leon sembari memandang heran kepada Ethan.
“erg… tak ada, tak apa-apa, hanya bicara sendiri” ujar Ethan gelagapan.
“kau aneh…” kata Maria.
“bicara sendiri yaa…” kata Lucille menekankan nadanya dengan lirikan penuh arti ‘apa yang kau rencanakan?’ pada Ethan. Ethan hanya membalasnya dengan cengiran konyol.
“jadi? Yang ingin kau ajukan?” tanya Leon pada Lucille.
“yaaa… karena kebanyakan cerita cinta itu akhirnya happy ending, gimana kalau kita tampilkan hal yang sebaliknya?” ujar Lucille.
“maksudmu?” tanya Maria.
“kenapa tidak kita berikan cerita cinta dengan akhir tragis?” ujar Lucille bersemangat. Kelas kembali agak ribut membicarakan ide itu. Mereka sedikit penasaran dengan ide Lucille.
“well, maksudnya? Kita buat cerita baru?” ujar Leon.
“no… tak perlu… kita pakai saja Ice and Snow, tapi kita rubah alur ceritanya…” Lucille menjelaskan.
“tapi itukan justru bakal merubah seluruh isinya?” ujar Ethan.
“tentu saja, itu tak mungkin akan cocok dengan judulnya! Kau bodoh ya?” ujar Maria.
“wew, perubahan isi tentu aja akan berdampak sama judulnya, mana mungkin aku tak menyadarinya… ya kita ubah juga judulnya…” ujar Lucille sambil tersenyum.
“itu bukan Ice and Snow lagi dong…” ujar seorang siswa.
“tetap Ice and Snow kalau kita ubah jadi The Dark Side of Ice and Snow, kan?” kata Leon. Semua mata memandang padanya. Leon juga baru terpikir judul itu dan tanpa sadar langsung melontarkannya.
“yaaah… kalau tak keberatan…” katanya agak salah tingkah. Kelas hening sejenak.
“kurasa itu bisa digunakan…” kata siswa lain.
“ya… masih terasa seperti Ice and Snow, tapi mengandung misteri…” ujar lainnya.
“menarik…” ujar siswa lain.
“tak buruk juga…” kata Lucille menatap puas pada Leon dengan pandangan ‘kau berhasil’.
“ya… pakai itu saja deh, “ kata Maria bersemangat.
“kau sih apapun usul Leon pasti kau terima” ujar Lucille.
“heh? Maksudnya?” tanya Leon.
“tidak… tidak ada apa-apa… be…nar… kan…, Mortmaiden?” kata Maria sambil menatap Lucille dengan arti ‘tutup mulutmu’.
“yeah… yeah…” kata Lucille cuek.
Akhirnya mereka setuju dengan usulan judul itu, dan memutuskan akan mengajukan judul itu untuk acara pentas seni. Mereka memutuskan menghentikan rapat itu dan dilanjutkan besok saat istirahat siang untuk menentukan tugas setiap orang. Tentu saja perannya akan ditentukan belakangan setelah skrip terselesaikan. Dan begitulah rapat itu selesai hari itu dengan ide yang memuaskan.
* * * * *
Lucille tengah mengemas semua bukunya dan bersiap untuk pulang saat sebuah bola kertas kembali menghantam wajahnya. Ia tak lagi kaget menoleh bola kertas itu dan tentu saja telah bisa menebak siapa yang melemparnya. Maria, pikirnya. Dengan malas, ia membuka bola kertas itu dan membaca tulisan mungil yang berjejer rapi itu.
Boleh juga idemu. Dapat pencerahan darimana itu?
Kau sengaja ingin menarik perhatian Leon ya, dasar menyebalkan!
Lucille menghela napasnya agak dalam. Kenapa Maria tak langsung bicara saja sih dengannya. Lucille tau Maria adalah anak yang baik, Maria pasti akan menjadi teman yang enak diajak kemanapun, atau berbicara apapun dengannya. Karena Lucille berpikir Maria adalah tipe yang sama dengannya, sama-sama suka tantangan yang seru. Tapi, yang berbeda hanya, jika Maria tipe yang berapi-api, Lucille adalah tipe yang tenang dan cuek. Lucille dengan enggan mengambil pulpennya dan hendak menulis balasannya, hingga sebuah tepukan mengejutkannya dari belakang.
“tak pulang?” ujar Ethan dibelakang Lucille dengan senyum di wajahnya.
“kau tampaknya senang sekali” ujar Lucille.
“tentu! Aku sudah bosan sejak tadi, ayo pulang!!” ujar Ethan bersemangat.
“kenapa tak pulang sendiri?” kata Lucille dengan tampang bosan.
“wew, ayolah, kaukan kuajak pulang bareng, kesempatan langka lho pulang bareng saya…” ujar Ethan.
“ge er sekali…” ujar Lucille cuek.
“ok, ku tunggu dibawah” ujar Ethan sambil berlalu pergi.
“aku tak…” Lucille memandang sebal pada temannya itu.
“ah ya, idemu tadi cemerlang! Tak heran itu darimu…” ujar Ethan sembari pergi melewati koridor kelasnya.
Lucille menghela napas lagi. Ia berpikir, kali ini ia menghela napas terus sembari tadi, bisa-bisa umurnya pendek. Kemudian ia menatap tangannya dan kertas didepannya. Ah, ya… aku ingin menulis balasan, pikirnya. Sejenak ia membaca kembali tulisan Maria, dan hendak menulis balasannya saat bola kertas kembali bergulir di mejanya. Apalagi?, pikirnya. Ia membuka bola kertas itu dan membaca isinya.


Hebat sekali kau.
Belum juga Leon, Ethan Forkinhill juga kau incar.
Aih, Maria. Ah ya, ia tak tau kalau Ethan adalah teman masa kecilku. Tentu saja ia berpikir seperti itu. Akhirnya ia malas memikirkan apa yang akan ia tulis di balasannya dan memutuskan untuk menghampiri Maria. Ia memasukkan semua alat tulisnya dan membuang kertas-kertas itu kemudian menyandang tasnya dan berjalan menghampiri Maria yang tengah berkemas untuk pulang. Ia menarik kursi didepan meja Maria dan menghadapkannya pada Maria, kemudian duduk dengan menatap Maria. Ia melihat mata bulat Maria kaget dengan tingkahnya dan ia pikir itu cukup lucu, jadi ia sedikit menahan tawa.
“apa yang kau lakukan?” ujar Maria.
“duduk” kata Lucille cuek.
“siapa bilang kau tidur, siapa yang memperbolehkanmu duduk didepanku” ujar Maria kesal.
“tak ada yang melarangnya” ujar Lucille lagi. Maria memandangnya sebal.
“aku yang melarangnya…!” katanya.
“tapi kau bukan pemilik kursi ini” kata Lucille. Dengan senyuman.
“kau…” ujar Maria kesal dan mengurungkan niatnya. Ia hanya menatap sebal pada Lucille.
“Maria, tak bisakah kita bicara normal saja?”ujar Lucille akhirnya.
“maksudmu?” tanya Maria.
“yeah… bicara seperti ini, tak usah menyampah dengan menulis surat-surat itu, tanganku capek” ujar Lucille.
“aku malas bicara dengan orang miskin sepertimu” ujar Maria.
“benarkah?” tanya Lucille memandang lurus ke mata Maria.
Maria melihat Lucille ingin membalas perkataannya. Tapi, ia terpaku melihat Lucille memandang lurus kepadanya dengan ekspresi serius. Ia tak pernah melihat Lucille seperti itu. Rasanya ia sedikit terdorong mundur.
“ap…” kata Maria.
“benarkah kau berpikir seperti itu? Memang itu penilaianmu padaku?” ujar Lucille tegas. Maria sedikit kalah nyali. Ia tak pernah membayangkan ada orang yang langsung bertanya penilaian orang lain setegas itu.
“apa sih…” ujarnya tak menemukan balasan yang tepat.
“aku tau Maria, aku mengerti…” ujar Lucille.
“apanya! Kau mengerti apa?” kata Maria kesal. Entah apa yang membuatnya kesal.
Lucille mencondongkan tubuhnya mendekati Maria dan tetap menatap mata Maria. Maria bergeser kebelakang sedikit agak takut dengan sikap Lucille yang tak biasa itu. Mata mereka saling pandang, namun tak seperti biasanya, Maria akan melotot pada Lucille, kali ini ia kalah. Ia ingin memalingkan wajahnya tapi ingin tetap bertahan pada adu pandang itu. Ia melihat Lucille melebarkan sedikit senyum dan binar dimatanya.
“aku bisa mengerti apa yang ada di dirimu…” ujarnya dengan senyum.
“ap…?! Kau tak tau apa-apa tentangku, jangan asal menil…” celoteh Maria.
“begitulah, kau juga tak tau apa-apa tentangku, jadi jangan asal menilaiku seenaknya…” ujar Lucille memotong perkataan Maria. Maria kaget, dan kesal. Tapi ia tak bisa membalas perkataan Lucille.
“tapi, ada satu hal yang aku tau pasti tentangmu Maria…” ujar Lucille.
“ap?! Jangan panggil namaku seenaknya!” bentak Maria.
“aku tau pasti, kau bukan orang yang menyebalkan, kau orang baik” ujar Lucille.
“a…” kata Maria tak tau apa yang harus dikatakannya.
“jadi kita harus berteman baik dan bersaing jujur…” kata Lucille. Ia kemudian berdiri dan mengembalikan kursinya ketempat semula.
“aku bukan orang baik!” protes Maria. Lucille menoleh padanya, dan tersenyum kembali.
“seseorang yang bilang dirinya bukan orang baik, dia justru lebih baik dari itu” kata Lucille sambil melangkah pergi. Maria menatap Lucille menjauh, tapi tak menemukan kata-kata untuk membalas perkataannya, ia sedikit malu. Baru kali ini ada orang yang berkata seperti itu dengan tampang serius seperti Lucille. Tak lama, Lucille berbalik menatapnya lagi.
“ngomong-ngomong tak apakan aku panggil Maria? Namamu tak ada kutukannya kan? Kau juga boleh panggil aku Lucy…” kata Lucille dengan senyum lebar. Lalu melangkah pergi kembali.

“siapa yang mau!” ujar Maria kesal, tapi setelah itu ia tersenyum kecil dikursinya.

_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_

STAGE 6. ICE AND SNOW

| Sabtu, 17 Agustus 2013 | 0 komentar |

Freedert adalah seorang gadis desa biasa yang tumbuh sebagai anak seorang petani kerajaan. Berambut kuning keemasan dengan mata biru. Ia selalu diajak oleh sang ayah ke kerajaan saat ayahnya hendak menemui sang Raja. Raja Salvatore adalah seorang raja bijak yang disegani dan dihormati oleh rakyatnya. Ia di sayangi oleh rakyat, begitu juga sebaliknya, Raja sangat menyayangi rakyatnya. Ratu, telah lama meninggalkan tahta kerajaan, tak lama setelah ia melahirkan pangeran Eliot, pewaris tahta satu-satunya kerajaan Salvatore. Berbeda dengan Raja, Eliot yang terbiasa hidup dengan mewah itu, selalu heran melihat sang ayah yang dekat dengan rakyat kecil dan menilai itu tindakan yang tak masuk akal. Namun, pertemuannya dangan Freedert disuatu hari saat mereka masih kecil mengubah semuanya.
Freedert kecil dengan tegas mengatakan bahwa kerajaan hanyalah sebuah bangunan rapuh tanpa rakyatnya. Eliot yang marah dengan pernyataan Freedert itu berupaya untuk membalas kata-katanya dikemudian hari. Namun, sang ayah, Raja Salvatore membuat keputusan untuk memberi Eliot pelajaran dengan menyuruhnya pergi kesebuah perkebunan dimana dulu ayahnya dibesarkan. Pada akhirnya, Eliot mengerti bagaimana sang ayah dulu dibesarkan, bagaimana sang ayah begitu menghormati orang-orang yang bekerja di tempat yang ia nilai sebagai tempat yang kotor itu. Beberapa tahun berlalu, Eliot melupakan perkataan Freedert dimasa lalu, ia bahkan tak mengingat gadis itu lagi.
Hingga suatu saat gadis itu muncul kembali dihadapannya. Gadis itu telah tumbuh dewasa, dengan paras cantik yang benar-benar membuat Eliot terpesona. Rambut keemasaannya dikepang dan disampirkan pada bahunya. Ia mengenakan pakaian biasa, namun bagi Eliot, hal itu tak mengubah kenyataan bahwa Freedert membuatnya tertegun. Saat itulah, ingatan-ingatan akan perkataan Freedert itu kembali lagi padanya. Dan akhirnya Eliot memutuskan untuk meminta maaf pada Freedert. Ia mencari Freedert di seluruh istana dan tak menemukannya. Ia mengingat-ingat dimana ia menemukan Freedert saat kecil dulu. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju taman tengah. Dan benar saja, ia melihat Freedert duduk di kursi di tengah taman dan memandang kebun bunga di depannya. Ia menghampiri Freedert dan menyapanya.
“hei… apa yang selalu kau lakukan disini?” sapa Eliot.
Freedert menoleh dan melihat Eliot tengah berdiri tak jauh darinya dan memandangnya dengan senyum di wajahnya. Ia tau Eliot adalah pangeran Salvatore. Ia berdiri kemudian membungkuk untuk memberi hormat.
“Freedert memberi hormat pada pangeran… saya, sedang menunggu ayah saya, yang mulia…” ujar Freedert.
“hooo… bukan itu yang kutanyakan, sepertinya kau selalu menunggu ayahmu di taman tengah ini… apa yang kau sukai disini?” tanya Eliot lagi. Freedert tertegun sesaat. Ia heran bagaimana sang pangeran tau kalau ia selalu menunggu ayahnya disini.
“apakah kita pernah bertemu sebelumnya, pangeran?” tanya Freedert penasaran.
Eliot memandang Freedert sebentar, kemudian ia tersadar. Tentu saja Freedert melupakannya. Sudah hampir 10 tahun mereka tak bertemu. Tentu saja Eliot sangat-sangat berubah sekarang. Ia tak lagi terlalu mementingkan bagaimana ia berpakaian atau berpenampilan seperti bangsawan, dan hasil dari kerjanya di kebun selama itu tentu saja membuatnya berubah drastis. Akhirnya Eliot tersenyum jahil dan ingin menggoda Freedert sedikit.
“tidak juga… aku selalu memperhatikanmu dari jauh…” ujar Eliot tenang sambil duduk dikursi di depan Freedert dan menumpukan tangannya serta memandang Freedert.
“eh?” Freedert lagi-lagi terkaget mendengar kata-kata Eliot.
“a… apa maksud, pangeran?” ujarnya dengan malu. Ia malu jika kata-kata pangeran benar, berarti pangeran… malihatnya melakukan hal-hal memalukan selama ini disana. Ia suka tempat itu karena tempat itu sepi dan sunyi, juga banyak kebun bunga yang ia suka, mawar merah. Dan ia selalu melakukan banyak hal bodoh untuk mengisi waktu menunggu ayahnya.
“apa, yaa…” ujar Eliot menikmati ekspresi Freedert. Freedert yang sadar kalau Eliot menikmati responnya, tersadar bahwa Eliot tengah mengerjainya.
“pangeran bohong…” ujar Freedert akhirnya.
“hm? Apa?” kata Eliot.
“pangeran bohong berkata kalau selalu memperhatikanku disini” ujar Freedert.
“kenapa aku harus bohong?” sambung Eliot.
“karena anda tak pandai berbohong…” ujar Freedert akhirnya dengan balas menatap Eliot. Eliot tersenyum melihat Freedert. Kemudian ia tertawa kecil.
“oke… itu bohong… tapi yang aku katakan kalau kita pernah bertemu itu tak bohong…” ujar Eliot akhirnya.
“eh?” Freedert kaget. Ia mengingat-ingat kapan mereka pernah bertemu.
“kapan?” tanya Freedert.
“giliranmu menjawab pertanyaanku… kenapa kau selalu menunggu ayahmu disini?” tanya Eliot.
“ah… uhm.. itu… karena disini banyak kebun bunga yang kusukai, pangeran…” ujar Freedert pelan.
“berhenti panggil aku pangeran, tak enak didengar… panggil saja Eliot…” kata Eliot.
“eh… itu…” ujar Freedert. Ia tak yakin apa Eliot mendengar jawabannya.
“panggil aku Eliot, itu perintah…” ujar Eliot tersenyum.
“anuu… tuan… Eliot…” kata Freedert pelan.
“hi…lang…kan… tuannya… hanya Eliot…” Eliot bersih keras.
“ta…” ujar Freedert.
“itu perintah…” ujar Eliot sekali lagi. Freedert memandang Eliot, kemudian ia menghembuskan napas panjang.
“baik, Eliot…” ujarnya akhirnya.
“good… jadi, bunga apa yang kau suka?” tanya Eliot lagi. Freedert kaget, ternyata Eliot mendengarkan apa yang ia katakan.
“ehm… ituu…” ujar Freedert enggan menjawab. Karena terkadang beberapa orang menanggapi bunga kesukaannya itu sebagai sesuatu yang… yah… mawar merah darah dengan jumlah yang banyak membuatnya terlihat seperti genangan darah, jadi tak banyak yang menyukainya.
“blood-rose, ya?” tanya Eliot tiba-tiba sambil memandang berkeliling. Freedert terkaget. Ia tak membayangkan kalau Eliot akan menebak benar jawabannya. Disitu banyak bunga lain selain mawar darah. Dan Eliot langsung menjawabnya dengan benar. Eliot memandang Freedert, melihat ekspresi Freedert ia tau kalau jawabannya tepat.
“benar, ya… oke…” ujarnya tersenyum. Freedert gelagapan. Tapi ia kemudian langsung bertanya tentang pertemuan mereka sebelum ini.
“kapan kita pernah bertemu, pange… ah… Eliot?” tanyanya.
“kau benar-benar tak mengingatkanya? Ah… ya… aku mengerti…” ujar Eliot sambil mengangguk.
“kita bertemu saat kita kecil… saat aku berumur 5 tahun… disini…” ujar Eliot.
“eh?” tanya Freedert.
“masih belum ingat?” ujar Eliot. Freedert menggeleng.
“bagaimana mungkin aku, pangeran Salvatore lemah tanpa adanya kalian para rakyat jelata?” ujar Eliot. Freedert mendongak.
“apa?” tanyanya.
“itu yang dulu pernah kukatakan, ingat?” kata Eliot. Freedert kembali menggeleng.
“kerajaan hanyalah sebuah bangunan rapuh tanpa rakyatnya… begitu juga rakyatnya yang sangat rapuh tanpa perlindungan Raja” ujar Eliot lagi.
“dan anda, pangeran, hanyalah manusia lemah yang sama dengan para rakyat itu…” sambungnya lagi.
Akhirnya Freedert sedikit mengingat kejadian itu. Hal itu pernah terjadi. Saat ia tak sengaja bertemu dengan Eliot saat masih kecil. Eliot kecil memandangnya dengan tatapan jijik dan merendahkan. Dia juga menjelek-jelekkan ayahnya yang seorang petani. Hal itu membuat Freedert kesal dan kata-kata kecaman itu keluar begitu saja dari mulut Freedert. Dan saat ia sadar akan perkataannya, semua tak bisa ditarik kembali. Raja marah akan kekeras kepalaan Eliot dan memerintahkan Eliot untuk melepas baju bangsawannya dan pergi ke suatu perkebunan tak jauh dari kerajaan. Freedert kemudian tersadar akan kejadian itu. Dan udara dingin tiba-tiba dapat ia rasakan dengan jelas.
“ah… ma… maafkan hamba, yang Mulia… hamba begitu tidak sopan… hamba…” ujar Freedert. Ia juga sadar bahwa diasingkannya Eliot sebagian karena dirinya. Melihat kelakuan Freedert, Eliot tertawa terbahak-bahak. Freedert memandang Eliot dan heran dengan apa yang terjadi.
“kau lucu…” ujar Eliot. Ia kemudian berdiri. Freedert hanya memandangnya saja, masih tak mengerti akan apa yang terjadi.
“aku sudah tak memikirkan itu lagi, lagipula aku memang salah… dan aku berterima kasih untuk perkataanmu itu…” ujar Eliot tenang dan ia berbalik pergi.
“hanya itu yang ingin ku ucapkan… ah… juga maaf atas perkataanku saat itu…” ujarnya lagi sambil melambaikan tangan.
“ah…” Freedert ingin memberi hormat kembali, ia berdiri tapi kemudian Eliot berbicara.
“tak usah bersikap formal begitu… ngomong-ngomong… kau boleh kesini kapan saja untuk melihat blood-rose itu… bunga itu sengaja kutanam karena itu juga bunga kesayangan Ratu…”ujar Eliot sambil berlalu pergi meninggalkan Freedert yang masih tertegun.
* * * * *
Itulah awal pertemuan kembali Eliot dan Freedert setelah hampir 10 tahun lamanya. Hari demi hari berlalu, kedua remaja itu akhirnya dekat dan berteman. Tanpa mereka sadari, mereka berdua jatuh cinta. Mereka tau hal ini bukan hal yang bisa terjadi antara keluarga bangsawan dengan petani, namun, mereka tetap mempertahankan perasaannya itu. Sedikit membuat capek, menyembunyikan hubungan mereka. Hal itu juga akan sangat sulit semakin lama.
Akhirnya, pada saat Raja memutuskan untuk menunangkan putranya, Eliot menolaknya habis-habisan. Raja menanyakan alasan Eliot menolak hubungan itu, namun Eliot bertahan untuk merahasiakannya.
“sebenarnya, apa yang membuatmu menolak ini, Eliot?” ujar Raja.
“aku… hanya tidak bisa, ayah…” ujar Eliot.
“tapi pasti ada alasannya…” ujar Raja, ia mencoba mencari jawabannya. Ia akan menghormati semua keputusan Eliot asalkan itu benar-benar ada alasan yang jelas.
“aku tak bisa mengatakannya…” ujar Eliot pahit. Ia benar-benar bingung akan situasi ini. Jika ia tak mengatakan alasannya, ayahnya pasti akan memaksanya menerima pertunangan itu, jika ia mengatakan bahwa ia menjalin hubungan dengan putri petani, apa yang akan terjadi pada Freedert? Pikiran-pikiran itu berkecamuk dikepala Eliot. Raja yang menatap wajah putranya itu kemudian tersadar dan menepuk tangannya.
“ah… apa mungkin kau… sudah punya orang yang kau cintai?” ujarnya. Eliot kaget. Ia menoleh pada ayahnya dan melihat Raja memandang matanya lurus-lurus. Ia memalingkan wajah, ia takut ayahnya menyadari hal yang sedang ia pikirkan.
“kenapa Eliot? Apa benar begitu? Kenapa tak kau sampaikan sekarang pada ayah? Siapa orang itu?” ujar Raja memaksa.
“aku… tak bisa…” ujar Eliot.
“kenapa?” tanya Raja.
“aku… hanya… tak bisa mengatakannya…” ujar Eliot frustasi.
Raja yang memperhatikan wajah anaknya itu menyadari hal yang dipikirkan Eliot. Kemudian ia mengingat-ingat, semua gadis yang dekat dengan Eliot selama ini. Eliot tak pernah mengijinkan seorang gadispun untuk dekat dan mengenalnya lebih jauh. Ia selalu membuat dinding pembatas untuk tiap gadis yang mendekatinya. Baik itu bangsawan atau rakyat biasa. Dan ia menyadari bahwa hanya seorang gadis yang diijinkan mendekat oleh Eliot.
“Freedert?” ujar Raja akhirnya.
Eliot terkejut akan jawaban ayahnya. Ia menoleh cepat ke ayahnya dan melihat ekspresi datar di wajah ayahnya. Ia sadar apa yang akan terjadi. Ini akan membahayakan Freedert. Ia harus segera menyelesaikan hal ini.
“ini… tak seperti yang ayah kira… dia… aku yang menyukainya… Freedert sama sekali tak bersalah…” ujar Eliot kacau dan frustasi. Ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Freedert. Melihat anaknya yang begitu kacau itu, Raja hanya tertegun. Tak berapa lama, ia tertawa keras. Eliot hanya terdiam.
“apa yang kau pikirkan? Sampai-sampai kau begitu kacau seperti itu?” ujar Raja.
“eh?” hanya itu yang terucap oleh Eliot.
“kalau memang sudah memiliki orang yang kau cintai, harusnya kau bilang lebih cepat pada ayah… kau pikir ayah akan memakan Freedert hanya karena kau mencintai anak seorang petani?” ujar ayahnya dengan ringan. Eliot menatap ayahnya tak percaya.
“kalau begitu, pertunangan itu akan ayah batalkan… selama kau tau pilihanmu itu benar…” ujar ayahnya sambil memandang anaknya dengan lembut. Eliot masih tak percaya ucapan ayahnya, tapi kemudian ia menjawab dengan tegas.
“aku tau pilihanku benar…” ujarnya. Kemudian raja memandang wajah anaknya dan tersenyum lalu mempersilakan Eliot pergi.
* * * * *

Pada akhirnya baik Eliot maupun Freedert memutuskan untuk tidak menyembunyikan hubungan mereka lagi. Mereka berdua sama-sama terkejut dengan hasil yang diluar dugaan mereka. Mereka berpikir, orang-orang desa bahkan Raja takkan membiarkan hubungan mereka karena perbedaan status mereka, namun, bukan hanya ayah Freedert dan warga Desa, bahkan Rajapun menyetujui hubungan mereka. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengumumkan pertunangan mereka. Semua warga desa mendukung mereka, Eliot dan Freedert menikmati kebersamaan mereka. Sungguh hari-hari yang bahagia. Akhirnya, mereka bisa dengan bebas menunjukkan kasih sayang mereka dihadapan orang lain. Mereka begitu mensyukurinya.
Hubungan mereka berjalan dengan bahagia hingga menjelang pernikahan. Persiapan pernikahan merekapun telah lama dikerjakan dengan gembira oleh warga desa. Sang Raja memandang bahagia pada putranya yang telah beranjak dewasa. Ia memperhatikan bagaimana Eliot sekarang begitu dekat dan menyayangi rakyatnya, begitu berbeda dengan dirinya yang dulu. Ia akan dengan bangga meninggalkan kerajaan ini pada Eliot, pikirnya. Tapi, kebahagiaan itu menemui hambatan yang tak terduga. Perang terjadi.
Kerajaan Salvatore adalah kerajaan yang cinta damai. Raja tak berniat untuk memperluas kerajaannya. Namun, itu bukanlah satu-satunya hal yang di pikirkan semua Raja. Walau tak di inginkan oleh Raja Salvatore dan rakyatnya, hari itu pasti akan datang.
Sebulan sebelum pernikahan Freedert dan Eliot, Kerajaan Salvatore di serang. Raja berusaha mempertahankan Kerajaannya dengan mengirimkan tentara-tentara berkualitas ke tiap pos penjagaan yang ada di setiap lapisan kota. Namun serangan terus datang dan mempersulit keadaan. Eliot yang tak tega melihat ayahnya tertekan karena banyak rakyatnya yang tewas, mengajukan diri untuk memimpin pasukan bantuan menjaga pos lapisan terkahir. Raja melarangnya, walaupun ia sadar Eliot adalah ksatria yang hebat. Ia tak ingin nyawa putranya terancam, disaat mendekati hari kebahagiaan putranya. Ia ingin melihat putranya menjalani saat paling berbahagia dalam hidupnya. Namun, Eliot berkeras. Eliot tetap ingin memimpin pasukan pada benteng terakhir. Ia mengatakan bahwa percuma jika ia menikah namun kerajaan itu hancur dan ayahnya tewas. Raja tetap melarang dan meminta Freedert membujuk Eliot, namun, pikiran Freedert sama dengan Eliot. Akhirnya, Eliot tetap pergi memimpin pasukan menuju benteng terakhir, Freedert tetap melepas Eliot dengan senyum walau ada perasaan cemas melanda hatinya.
Freedert terus berdoa untuk keselamatan Eliot di medan perang. Tanpa henti seharipun. Namun, pembawa berita bukan membawa kabar baik, tapi membawa berita kematian Eliot. Freedert yang terkejut hanya bisa menangis sedih mendengar nasib kekasihnya, ayahnya hanya bisa menyalahkan dirinya dan meminta para dewa untuk memberinya kematian yang sama. Namun, tak ada yang terjadi. Freedert tetap terjerumus dalam jurang kesedihan, hingga suatu hari ia memohon pada Dewa.
“oh, dewa… aku tak bisa jika tanpa Eliot, kucoba dan kucoba, tetap saja hati ini hampa tanpa dia… kumohon dewa, jika engkau tak bisa mengabulkan keinginan hambamu yang egois ini.. tukarlah waktuku dengan miliknya yang telah hilang…” doa Freedert didepan kuil dewa pelindung kerajaan.
Dewa yang merasa iba dan kagum atas kasih sayang yang ditujukan untuk Eliot, betapa ia disayangi oleh manusia lain dan betapa mereka kehilangan sosoknya, maka dewa memberikan kesempatan bagi Eliot. Panah yang menancap di jantung Eliot berubah seketika menjadi helaian daun, darah yang berceceran di sekitar tubuh Eliot berubah menjadi kelopak bunga. Eliot membuka matanya, menyaksikan sekelilingnya menjadi makam raksasa, namun para prajuritnya berhasil memukul mundur pasukan lawan dan mempertahankan kerajaan. Ia memaksa tubuhnya berdiri dan berjalan terseret menuju benteng, saat ia membuka benteng, para prajurit tertegun melihat sang pangeran masih bernyawa dan mereka segera bersorak gembira.
Kabar itupun sampai ke telinga Freedert, betapa ia bersyukur bahwa kekasihnya itu kembali hidup dan membuka mata. Sang Raja terduduk menangis tersedu untuk pertama kalinya semenjak kabar tewasnya sang Pangeran. Freedert langsung mengayunkan kakinya menuju kuil dan bersujud.
“terima kasih dewa, terima kasih…” ujarnya.
Saat Eliot pulang dan disambut oleh Freedert dan Raja, ia masih bingung dan tak mengerti. Karena seingat Eliot, ia terpanah dan kehilangan kesadaran. Apakah ia tidak mati? Apa ia selamat? Bagaimana mungkin ia selamat tanpa luka segorespun, pikirnya. Freedert dan Rajapun berpikir sama. Freedert berpikir apakah ini karena doanya? Tapi kenapa nyawanya masih ada, jika memang ini adalah pertolongan Dewa. Begitupun Raja. Namun, pada akhirnya, mereka tak mengerti apapun, dan tetap bersyukur akan kepulangan Eliot.
Persiapan pernikahan Eliot dan Freedert dilanjutkan. Persiapan itu berlangsung dengan ceria. Pesta pernikahan kedua penerus kerajaan itu dinantikan oleh semua warga, Eliot yang bijak dan pemberani, dan Freedert yang baik hati, bagaimana mungkin pernikahan kedua orang yang begitu baik itu tak dinantikan. Namun, disuatu sudut desa, Freedert bertemu dengan seorang kakek yang terduduk dipojok sebuah gubuk tua. Sang kakek tengah memandang kearahnya dengan tatapan lembut, namun ia terlihat tertatih dan begitu lemah. Freedert menghampirinya.
“selamat pagi, kek… aku tak pernah melihatmu… siapa namamu?” tanya Freedert.
“aku hanya pengembara, gadis muda…” ujar kakek. Pengembara? Diumurnya yang sudah lanjut ini? Pikir Freedert.
“oh, begitu… apakah kakek memiliki kepentingan di Salvatore?” ujar Freedert lagi.
“aku hanya ingin melihat negeri ini, gadis muda…” ujarnya. Freedert bingung dengan jawaban sang Kakek. Tak lama kemudian Eliot muncul dibelakang Freedert dan menyapa Freedert.
“apa yang kau lakukan disini, Freedert?” ujar Eliot.
“ah… ini…” ujar Freedert.
“pagi, Pangeran…” ujar sang Kakek.
“ah, pagi kek… anda baru disini? Aku tak pernah melihat kakek…” ujar Eliot.
“hamba hanya pengelanan, pangeran muda… dan selamat untuk pernikahanmu…” ujar kakek.
“terima kasih kek…” ujar Eliot tersenyum.
“kalian berdua akan menjadi pemimpin negeri yang dikagumi dan paling bersinar diantara para Raja… karena itu Dewa menyayangi kalian dan memberi kesempatan pada Pangeran untuk melanjutkan napas… dan untuk calon Ratu yang rela memberi nyawa demi calon Raja… sungguh ikatan yang mengharukan dan pantas dilindungi… mungkin itulah pikir sang Dewa…” ujar kakek.
Eliot dan Freedert berpandangan. Mereka berdua tak mengerti maksud ucapan kakek itu, mereka pikir kakek itu hanya berbicara tanpa arah. Namun mereka tetap mendengarkan apa yang diucapkan sang kakek. Mereka lama memandang sang kakek, kemudian sang kakek menatap mereka dengan lembut.
“kau di cari oleh ayahmu, pangeran, begitu juga denganmu, nona…” ujar sang kakek. Tanpa bertanya Eliot dan Freedert menoleh kebelakang dan melihat ayah mereka melambaikan tangan, merekapun melambaikan tangannya dan menyadari sebuah keanehan.
“bagaimana kakek tau bahwa itu a…” ucap Freedert melihat kearah kakek itu lagi.
Namun, sang kakek telah menghilang. Tanpa suara ataupun jejak. Freedert memandang Eliot, dan tentu saja Eliot hanya mengangkat bahunya. Akhirnya mereka tetap bertanya-tanya. Tak lama kemudian, Eliot menyadari sesuatu keanehan lagi. Bagaimana sang kakek tau bahwa Eliot adalah pangeran? Tapi itu bukan sesuatu yang aneh. Yang lebih aneh lagi, bagaimana kakek itu tau bahwa Eliot pernah mati sekali dan kembali hidup? Pikiran itu tak pernah hilang dari ingatan Eliot, bahkan hingga pesta pernikahannya berlangsung. Pada akhirnya, Eliot hanya berpikir bahwa kakek itu adalah sebuah keajaiban. Begitu juga hidupnya, namun, ia tetap mengingat ucapan kakek ‘engkau akan menjadi raja yang paling bersinar diantara para raja akan kebijaksanaanmu dan kasih sayang rakyatmu yang begitu berkilau, karena itulah dewa memberimu kesempatan untuk melanjutkan napas’. Ucapan itu bagai suatu pengingat yang ia tanam dengan erat dihatinya untuk menentukan sikapnya sebagai Raja yang bijak diatas singgasananya. Akhirnya, Eliot dan Freedert menjadi pemimpin yang paling dihormati dan paling berjaya diantara pemimpin yang lain, dan mereka tetap bahagia hingga keturunan mereka.


_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_

STAGE 5. THE STORY BEGIN

| Sabtu, 10 Agustus 2013 | 0 komentar |
Tetap saja, pikir Lucille. Lucille hanya memandang kasihan pada Leon. Bagaimana tidak? Ide yang ia pikir bisa membantu, malah membuat ini semakin menyebalkan.  Kebetulan yang kemungkinannya mungkin di bawah 10% itu benar-benar terjadi. Dari 4 pilihan tema akhirnya malah memiliki jumlah peminat yang sama. Lucille memperhatikan ekspresi Leon dengan seksama. Kurasa ia mulai sebal, pikir Lucille. Entah mengapa Leon bersikap berbeda dari biasanya, pikirnya lagi. Tapi Lucille hanya memandang Leon penuh tanya dan akhirnya hanya bisa diam sambil menahan tawa melihat kejadian yang benar-benar jarang terjadi ini.
Dan, pikiran itu benar. Rasa kesal sudah menyelimuti hati Leon semenjak tadi. Hal ini benar-benar membuatnya marah. Sudah hampir 3 jam ia berdiri disana untuk mendapatkan keputusan, tapi malah terus saja menemui kendala. Apa yang kurang, pikirnya. Ia bukannya membenci pekerjaannya ini, ia malah merasa tersanjung dan senang mengetahui bahwa teman-temannya menilai dirinya pantas memimpin kelas mereka, tapi ia tak habis pikir, kenapa hal seperti ini justru terjadi saat ia benar-benar dalam suasana hati yang tidak baik. Semenjak pagi, pikirannya benar-benar tidak bisa fokus dan hanya mengacaukan semua yang ia kerjakan. Perjalanan ke sekolah yang menyakitkan karena harus tersandung atau menabrak sesuatu, digonggongi anjing dijalan, pelajaran yang tidak masuk ke otak, catatan waktu lari yang semakin buruk membuatnya harus melalui hari ini dengan mood yang benar-benar buruk. Saat ini ia benar-benar ingin menerkam sesorang, menghajarnya dan melemparnya jauh-jauh. Kemudian ia melihat kembali pada seluruh isi kelas.
“baik, ini benar-benar mulai mengesalkan…” ucap Leon datar.
Kontan ucapannya itu membuat kelas menjadi hening. Begitu juga Lucille, Maria yang memuja Leon dan Ethan yang tidak menyangka Leon berkata seperti itu. Ralat, sesungguhnya seluruh isi kelas memikirkan hal yang sama. Seorang Leon yang biasanya bisa menahan emosinya dan menarik jalan keluar yang tegas, berkata bahwa situasi ini mengesalkan benar-benar mengejutkan. Kelas itu kini hening beberapa saat.
“jadi? Ada lagi yang ingin menyumbang ide? Kalau bisa yang tidak ada kemungkinan memiliki suara sama” sambung Leon.
“kalau bisa, bicara satu-persatu” sambungnya lagi dengan ekspresi datar.
Kelas tetap diam beberapa saat. Kemudian seseorang mengangkat tangannya. Ethan yang terlihat bosan sembari tadi dan ingin cepat pulang dan memeluk bantalnya yang empuk mengangkat tangannya dengan enggan. Leon kemudian mempersilakannya untuk mengatakan pendapatnya.
“bagaimana kalau kau batasi saja kriteria yang diajukan, Leon?” ujarnya.
Leon tampak memikirkan masukan itu beberapa saat lagi. Kemudian ia memandang kembali pada teman-temannya.
“apa ada masukan lain?” ujarnya lagi.
Seorang siswa mengangkat tangannya dan mengajukan pendapatnya. Satu persatu siswa mengajukan pendapat untuk menyelesaikan rapat yang terus menemui jalan buntu ini. Satu per satu pula Leon mendengarkan setiap pendapat teman-temannya, meresapinya dan mencatat inti-intinya untuk ia lihat bagaimana sebaiknya keputusan diambil. Setelah beberapa saat kemudian, tak ada lagi yang mengangkat tangan. Leon mengangkat kertasnya dan membaca semua masukan itu satu per satu. Berpikir sejenak, duduk di kursi guru dan mencari jalan tengahnya. Selama ia berpikir, seluruh isi kelas diam, tak ada yang berani memulai keributan. Mereka menghormati Leon dan mereka mengerti jika hal ini akan menghabiskan kesabaran seseorang. Semuanya menunggu keputusan yang akan dibuat oleh ketua kelas yang mereka pilih dan akan dengan senang hati menerima keputusan itu. Tak lama kemudian, Leon berdiri kembali dan memandang ke seluruh kelas.
“oke… aku akan ajukan beberapa pilihan, tolong pilih yang menurut kalian paling menarik…” ujarnya. Seluruh temannya mengangguk dan mengatakan persetujuan.
“plot panjang atau plot pendek, mana yang kalian pilih?” ujarnya. Kelas diam beberapa saat.
“pendek” ucap mereka bersamaan.
“satu titik klimaks atau beberapa titik klimaks?” lanjut Leon.
“satu” ujar kelas serempak lagi.
“berdasarkan 1 tema atau gabungan beberapa tema?” lanjutnya.
Kali ini kelas agak ribut. Mereka memikirkan dan menimbang baik buruk atau sulit tidaknya melakukan salah satu yang di tawarkan. Melihat kelas yang ribut dn agak bingung ini Leon mengambil sikap dan kemudian berkata kembali.
“oke, ganti pertanyaan, ingin drama yang biasa atau yang tidak terlupakan oleh penonton?” ujarnya.
“tentu saja yang mengena” ujar kelas serempak.
“cerita orisinil atau menyadur yang sudah ada?” lanjutnya.
Kelas diam sejenak, memikirkan kembali mana yang lebih baik ternyata cukup sulit. Kemudian Leon menyambungnya.
“kalau bingung, silakan angkat tangan dan beri pilihanmu kemudian utarakan alasannya” ucapnya.
Maria mengangkat tangannya, dan setelah dipersilakan iapun mengutarakan pendapat.
“lebih baik yang sudah ada saja, soalnya waktu kita sempit, kalau masih membuat skrip yang tidak tau alur ceritanya akan makan waktu lama” ucapnya.
Kelas terdiam kembali. Kemudian semua terlihat setuju dengan ucapan Maria. Mereka kemudian memilih memakai cerita yang sudah ada.
Setelah sekian lama mendiskusikan dan memilih pilihan yang paling menarik, Leon kembali duduk dan membaca hasil diskusi itu kemudian mencoba menentukan batasan-batasan yang akan ia tawarkan. Tak lama ia melihat seluruh tulisannya, ia mulai menuliskankan sesuatu dikertasnya. Kelas tetap menunggunya dengan sabar. Sesaat kemudian, Leon berdiri.
“jadi, dari hasil tanya jawab tadi, ini batasan yang telah kubuat, jika ada yang tidak setuju silakan ajukan alasannya… menyadur cerita yang telah ada, dengan plot pendek, memiliki satu klimaks, ceritanya tidak berbelit-belit, melibatkan setidaknya separuh isi kelas dengan persiapan yang tidak lama, kalau bisa cerita yang bisa membuat penonton terpaku.. bagaimana?” ujarnya. Kelas menyatakan setuju dengan batasan itu.
“dan setelah memikirkan batasan itu, tema yang bisa diambil ada beberapa, yaitu, cinta, horror dan legenda.. silakan ajukan judul dengan batasan yang ada dan tiga tema tersebut” ucapnya lagi.
“satu per satu” tambahnya.
* * * * *
Aku menikmati waktu rapat dengan mengamati wajah Leon. Kemudian aku menoleh dan mengetahui bahwa Lucille juga mengamati Leon. Aku tau, ia memiliki perasaan yang sama denganku, kagum dan menyukai Leon. Tapi aku lebih menyukainya, pikir Maria. Terus terang aku tipe orang yang terganggu dengan keberadaan manusia seperti Lucille. Siswa-siswa yang menerima beasiswa, kupikir seharusnya mereka tau diri dengan masuk pada sekolah yang mampu mereka bayar dan bukannya memaksakan masuk sekolah dengan standart tinggi dan harus membuat mereka memabanting tulang untuk mendapatkan nilai baik dan kucuran bantuan. Hal itu membuatku terganggu. Dan melihatnya sekarang, aku benar-benar kesal. Aku mengambil selembar kertas kecil dari catatan saku milikku dan mulai menulis.
apa yang kau lihat, miskin?
Kau tak usah melihat Leon,
kasihan dia harus dipelototi oleh orang miskin sepertimu!
Kuremas kertas itu dan kulemparkan tepat kemejanya. Ia tampak sedikit terkejut, kemudian mengambil kertas itu dan membukanya. Tak lama ia menoleh padaku. Dan tentu saja aku balas melotot padanya.
* * * * *
Tiba-tiba bola kertas itu menghantam wajahku. Aku diam dan memandang bola kecil itu terguling dimejaku. Ku ambil dan kubaca isinya. Tulisan mungil dan rapi itu membuatku sedikit menahan tawa. Wow, Maria… sepertinya kau benar-benar menunjukkan rasa permusuhan padaku ya, pikirku. Aku menoleh padanya dan melihat ia mambalasku dengan pelototan, eww… seraaam… pikirku. Yaah, dia tidak berniat menyembunyikan rasa cemburunya padaku sih, habis dia dengan terang-terangan menunjukkan kalau ia menyukai Leon, hanya saja, Maria tidak mengenal Leon dengan baik. Leon adalah tipe yang benar-benar sulit untuk didapatkan kecuali kau dengan terang-terangan bilang “aku menyukaimu sebagai laki-laki, mau jadi pacarku?”. Kenapa? Karena ia minta ampun tidak pekanya. Jadi kalau ia berpikir bisa memonopoli Leon dengan menyingkirkan semua cewek yang dekat dengannya dengan cara seperti ini, itu salah besar. Yang ada, kalau Leon sampai merasa ada yang aneh dengan kelakuan teman-temannya dan itu berhubungan dengan Maria, Leon akan benar-benar murka padanya.
Maria bukan tipe cewek yang ku benci, seperti cewek-cewek pengecut yang menyerang saingannya berkelompok. Aku tahu. Kenapa, ya..? entah mengapa aku merasa begitu. Mungkin karena dia berbeda dengan cewek-cewek yang kutemui saat SMP, para rubah berbulu domba itu yang selalu mengekorku dan memanfaatkan keuntungan dariku. Atau mungkin saja, karena aku melihat diriku saat SMP padanya. Ku pikir, setelah mengenalnya semenjak kami sekelas saat tingkat 2, dia tak pernah sekalipun berniat atau melakukan hal-hal pengecut seperti memukuliku atau mencelakaiku walau terlihat sekali dia membenciku. Tapi, dia dengan terang-terangan melakukan segala hal yang bisa membuatnya lebih baik dariku, bagiku, itu hal langka untuk tipe cewek pesolek seperti dia. Karena itu, aku menghormatinya. Dan yang dia lakukan saat ini, tidak membuatku merasa kesal, takut atau marah, malah membuatku hampir tertawa. Jadii, kalau diumpamakan, seperti menghadapi kemarahan anak kecil yang ngambek karena tidak dibelikan permen yang ia minta, seperti itu kira-kira. Lucu, kan? Jadi pengen kukerjai, hhe. Aku membalik kertas itu, dan berpikir ingin menulis sesuatu. Setelah sekian menit, aku mulai menuliskan sesuatu.
Sorry…
Tapi ini gak ada hubungannya dengan tuan putri manja sepertimu
Sebaiknya kau urus saja urusanmu sendiri J
Aku meremas kertas itu dan melemparnya kembali. Kulihat Maria memungutnya dan membukanya, kemudian membacanya. Kemudia ia merobek kertas kembali dan menulis sesuatu. Setelah beberapa saat ia menulis, ia melempar kertas padaku. Tentu saja sekarang aku berhasil menangkapnya sebelum menghantam mukaku. Kubuka kertas itu dan melihat jejeran huruf mungil itu.
Tentu saja itu urusanku!!
Dan tentu saja ada hubungannya denganku!!
Kau mana boleh melihat ke Leon!! Pokoknya kau tak boleh!!!
Pergi!! Dasar sampah!!!
Aku membacanya dan wew… kurasa ia akan meledak kalau kukerjai sedikit lagi. Bagaimana ya enaknya… hmmm… kerjai… tidak… kerjai… tidak… aku menimbang-nimbang hal yang paling menarik. Aku menoleh pada Maria, ia terlihat masih asik menatap Leon. Aku menoleh pada Leon, ia masih sibuk dengan pekerjaannya. Aku menoleh kembali pada Maria, dan aku tau ia sedang memikirkan 1 judul drama romantis yang pasti ingin ia perankan dengan Leon, dan aku tau apa judul drama itu. Aku tersenyum puas. Kalau perkiraanku tepat, aku bisa ubah cerita ini dengan cerita yang aku temukan di rumah. Tak percuma juga punya kakak bego yang tertarik sama hal membosankan itu. Menimbang kembali, kalau aku bisa ajukan hal yang kupikirkan, tentu saja aku punya nilai plus untuk Leon kan.. hhe.. pikiran bisnis yang sempurna. Akhirnya, aku membalik kertas itu, aku menulis kata-kata yang agak (perhatikan kata agak dan garis bawahi) menyakitkan, mungkin bagi Maria sangat menyakitkan.
Urusanmu dari mana?
Kau bukan istrinya, juga bukan majikannya
Aku bebas melihat siapapun, kau bukan ibu atau ayahku?
Atau bahkan aku bukan peliharaanmu..
Jadi, jangan belagu hanya karena kekayaan orang tuamu, anak manja.
Aku meremas kertas itu dan melemparnya kembali. Sekilas, Maria menoleh padaku dan menatapku tajam, kemudian dia mengambil kertas itu dan membacanya. Tak berapa lama, tangannya terlihat gemetaran. Oke.. ini saatnya. Dia meremas kertas itu dan seketika menggebrak mejanya dan berdiri. Ups.. itu diluar dugaanku, aku juga kaget ia akan semarah itu. Oke.. kurasa aku keterlaluan. Maria menoleh padaku dengan pandangan geram. Aku memperhatikan sekitarku, dan tentu saja seluruh kelas menoleh padanya dengan kaget. Aku melihat Leon memperhatikan Maria dan menoleh padaku bergantian.
“APA MAKSUD…”  teriak Maria padaku.
“oke, Luthart.. apa ada yang ingin kau ajukan sebagai judul drama?” ujar Leon dengan agak keras menghentikan ucapan Maria.
Aku menoleh padanya dan tentu saja Maria tersentak dengan ucapan Leon. Aku yakin ia akan menyesal sudah berbuat seperti itu. Dan… oke… ku akui, aku juga menyesal menyebabkan hal ini. Yang pasti aku akan minta maaf pada Maria setelah rapat ini selesai.
* * * * *
Gebrakan meja itu mengagetkan semua orang. Sekarang seluruh isi kelas terpaku dan melihat pada Maria. Maria terlihat kesal dan marah. Amarah terpatri jelas diwajahnya. Ia menolehkan wajah mungilnya dengan cepat pada Lucille. Dan memandangnya dengan mata yang menyiratkan amarah. Ia tak senang dianggap sombong hanya karena kekayaan orang tuanya. Iapun merasa terganggu dengan anggapan itu. Tapi, bukan itu yang membuat ia marah. Ia marah, merasa kecewa, karena Lucille yang ia anggap berbeda dari orang lain, melihatnya dengan anggapan yang sama. Ia kecewa karena merasa penilaiannya terhadap gadis itu salah besar. Ia menilainya terlalu tinggi, pikirnya.
Di sisi lain Lucille terlihat agak terkejut dengan respon Maria. Ia menatapnya diam. Kemudian ia tersadar kalau yang ia katakan itu keterlaluan. Iapun akan sangat marah dan terganggu apabila ada yang menyebutnya sombong hanya karena reputasi ayah dan ibunya. Harusnya perasaan itu adalah hal yang paling ia mengerti, dan ia menyesali kebodohannya dengan menuliskan hal itu. Dan ia hanya menatapnya dalam diam.
“APA MAKSUD…” teriak Maria tapi tertahan oleh suara keras lainnya.
“oke, Luthart.. apa ada yang ingin kau ajukan sebagai judul drama?” ujar suara itu dari belakang Maria.
Suara itu tenag dan tegas. Tapi itu cukup untuk menghentikan dan mengagetkan Maria. Dan juga menyadarkan Maria bahwa ia melakukan hal yang bodoh. Maria menoleh pada sumber suara itu, dan ia melihat Leon menatap matanya lurus. Tentu saja itu bagaikan tatapan yang myiratkan arti  ‘hentikan. Kau akan terlihat konyol dengan tingkahmu sekarang’. Dan tentu saja, itu telah membuat Maria merasa konyol. Jika ayahnya tau ia bersikap begini memalukan, tak bisa mengontrol emosinya dan bertindak ceroboh, pasti ia telah dimasukkan dalam ruang hukuman selama seminggu. Mengingat itu ia terdiam dan merinding. ‘aku tak ingin masuk ruangan dingin itu lagi’ pikirnya.
“jadi? Apa yang kau ajukan, Luthart?” ujar Leon kembali.
Maria tersentak dan menoleh memandang Leon. Ia melihat Leon masih melihat matanya dan menunggu jawaban. Otak Maria berputar keras. ‘apa yang akan kukatakan. Apa yang ingin ku ajukan? Apa? Aku yakin aku punya judul itu, tapi aku tak sanggup berkata’ pikir Maria. Ia hanya berdiri mematung dalam diam. Lucille memandang Maria dengan seksama dan ia sadar apa yang telah ia akibatkan. Ia mencari cara agar Maria tenang, ia tau saat ini Maria pasti kacau dan tak bisa mengungkapkan pikirannya.
“aaaahhh, tenang banget hari ini, kalau kita mikir ketenangan ini dengan minum teh di taman, tenang banget hari ini, cerahh yaaa…” ujar Lucille agak lantang.
Seluruh kelas sekarang menoleh pada Lucille, termasuk Leon dan Maria. Leon menatap kearah Lucille dan ia langsung paham apa yang ingin Lucille lakukan. Begitupun dengan Maria. Maria tau Lucille berusaha menenangkannya. Akhirnya, ia memutuskan untuk melupakan amarahnya, menutup matanya dan membayang tempat paling tenang yang bisa ia ingat. Taman tempat keluarganya terakhir kali berkumpul bersama, bermain dan tertawa. Yang takkan ia datangi lagi karena ayahnya begitu gila akan kehormatan dan pekerjaan, juga kesempurnaan. Ayahnya yang baik telah berubah menjadi patung batu yang tak berperasaan. Ia menarik napas dalam, menghembuskannya lagi dan menarik napas lagi. Lalu ia membuka matanya.
“Mortmaiden, apa kau juga ingin mengajukan judul?” ujar Leon pada Lucille.
“hm? Aku hanya meracau, tak usah didengarkan” ujar Lucille tenang.
“ice and snow..” ujar Maria. Leon dan Lucille menoleh padanya.
“apa?” tanya Leon sekali lagi.
“aku ingin mengajukan cerita ice and Snow” ujar Maria dengan suara lebih keras.
Lucille tersenyum puas. Hal ini masuk dalam perhitungannya dan ia senang kalau perhitungannya benar. Ia telah menebak kalau Maria akan mengajuan cerita itu. Siapa yang tak ingin mengangkat cerita paling populer dengan keromantisan dan kisah cinta yang memukau. Dan tentu saja cerita itu cocok dengan imej pikiran Maria. Dan ia senang rencanya akan bisa dijalankan. Dan jika rencanya ini di terima, ini akan jadi cerita yang akan luar biasa.
“Ice and Snow? Ceritanya seperti apa?” ujar Leon. Lucille dan Maria melongo. Begitu juga seluruh isi kelas.
“yang benar saja, ketua… kau tidak tau cerita cinta paling populer di kotamu sendrir?” ujar Ethan dengan heran.
“euhm… yaaah… aku tak begitu tertarik dengan cerita dan dongeng…” ujar Leon sambil menggaruk kepalanya dengan cengiran kecil.

“cerita itu populer sekali, dan kau benar-benar tak tau? Oh, ya ampun…” ujar salah seorang siswa.

_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_