“heee….” Ujar Leon sambil mengangguk.
“gimana?? Masa kau tak pernah mendengar cerita
ini?” Ujar Ethan.
Leon mengangkat bahunya. “ tak pernah…” ujarnya.
“ehhh… kemana saja kamu selama ini?” ujar Maria
tak percaya.
“ah, sudahlah… yang penting, oke, itu cerita yang
bagus… yang lain bagaimana?” ujar Leon melihat siswa lainnya.
Semua murid dalam kelas agak ribut dan mulai
berbisik-bisik. Gumaman mulai terdengar kembali. Leon memperhatikan seluruh isi
kelas. Sepertinya akan ribut lagi, pikirnya, dan jujur saja ia mulai kesal
apabila kelas ini ribut kembali. Kemudian ia berdeham agak keras sebagai
komando untuk mengurangi keributan. Kelas terdiam, dan seluruh murid menoleh
pada Leon.
“jadi…?” tanya Leon kembali.
“cukup bagus kaaan..?? cerita itu populer, cerita
cinta juga banyak diminati oleh orang-orang bahkan remaja…” ujar Maria
menambahkan dengan riang.
Kelas kembali penuh dengan gumaman, bisik-bisik.
Sepertinya seluruh isi kelas tau apa tujuan Maria mengajukan cerita itu. Rasa
suka Maria pada Leon telah ditunjukkan dengan sangat jelas oleh Maria, namun
Leonlah yang tidak peka menanggapi luapan cinta dari Maria. Semua siswa di
kelas kurang setuju sebenarnya dengan cerita itu, karena pada akhirnya Maria
akan meminta Leon dan dirinya untuk memerankan peran utama. Namun, jika mereka
menolak, Maria akan sangat membenci mereka. Pada akhirnya tak ada pilihan lain
selain menyetujui pilihan Maria itu. Sedangkan para siswi sangat antusias
dengan ide cerita itu, karena cerita romantis seperti Ice and Snow adalah
cerita idaman para gadis. Tentu saja mereka rela bersaing untuk mendapatkan
peran utama wanita yaitu Freedert. Akhirnya, kelas kembali ribut. Dan, saat untuk
kedua kalinya Leon berdeham, kelas kembali hening dan menyuarakan kata setuju
dengan serempak.
“jadi, semua setuju?” ujar Leon sekali lagi.
“cerita itu boleh juga, cukup bagus kan?” ujar
Ethan.
“ya, oke… “ ujar seluruh kelas.
“tapi bukannya itu membosankan?” ujar suara dari
pojok belakang kelas. Semua siswa menoleh dan melihat Lucille tengah memandang
mereka dengan tatapan bosan.
* * * * *
Lucille melihat kearah Leon dan Maria. Ia
mendengus pelan. Ahh, bosan… pikirnya. Cerita cinta yang seperti itu tentu saja
terlalu berlebihan, terlalu dilebih-lebihkan, tentunya. Itu hal yang lumrah,
didunia ini tak ada cerita cinta yang semulus dan selancar itu. Lucille kembali
mendengus pelan dan berat. Ia melihat kearah teman-temannya yang sangat
tertarik dan bersemangat akan ide Maria mengenai Ice and Snow itu.
“tapi, bukannya itu membosankan?” pada akhirnya
Lucille tak sadar akan apa yang terucap dari mulutnya.
Ia sendiri terkaget kalau ia mengucapkan apa yang
ia pikirkan dengan keras. Seluruh pasang mata memandang kepadanya. Ia hanya
menarik bibirnya dan berusaha tersenyum, tapi yang keluar hanya cengiran
konyol. Ia melihat kearah Maria, dan ia merinding, ia sadar bahwa Maria
memandang penuh dengan permusuhan padanya.
“apa maksudnya itu?” ujar Maria datar.
“ehm… yah… tak ada maksud apa-apa…” ujar Lucille
konyol sambil menggaruk kepalanya.
“terus, apa maksudmu!” ujar Maria kesal.
“maksudku? Ah… yaa… maksudku,, ya yang aku
katakana…” ujar Lucille akhirnya. Ia masih mencoba menenangkan pikiran. Aggghh…
sudah terlanjur, tak bisa mundur… pikirnya.
“maksudmu, cerita yang aku tawarkan itu
membosankan?!” bentak Maria tak sabar.
“bukan…” ujar Lucille akhirnya.
“terus..?!” sambung Maria.
“stop,” suara Leon menggema.
“cukup sudah, dengan keributan dan pertengkaran…
kita kesal, jadi jangan emosi..” sambung Leon dengan nada ditekankan pada kata
emosi dan kesal. Maria kaget dan menoleh pada Leon, Lucille juga tak kalah
kaget. Ia memandang Leon dan mendapati Leon juga memandang kearahnya dengan
tatapan meminta penjelasan. Lucille kemudian memandang Maria yang tengah
terdiam menahan amarahnya dan melirik kepada Lucille dengan tatapan membara.
Lucille hanya mengalihkan pandang dengan enggan. Ini merepotkan, pikirnya.
Kemudian ia mendapati Ethan tengah menanti jawaban dengan tampang bosan.
Tampangmu itu bikin sebal, pikir Lucille.
“aargh… ini merepotkan…” gerutu Lucille akhirnya
dengan mengibaskan rambutnya kebelakang.
“jadi?” tanya Leon menunggu penjelasan.
“hmmm… bukan maksudku bilang kalau cerita itu
membosankan… tapi, tidakkah kalian pikir, menyadur cerita dan menjiplak cerita
itu 2 hal yang berbeda?” jelas Lucille. Hampir seluruh isi kelas bingung apa
maksud Lucille. Lucille hanya mendengus lebih berat.
“kalau kita pakai cerita Ice and Snow asli, itu
namanya menjiplak… lagian, kalau pakai cerita asli orang akan tau bagaimana
cerita itu akhirnya, mana bisa begitu dibilang membuat penonton terpaku?” jelas
Lucille kembali.
Sepertinya teman-temannya mulai menanggapi apa
yang Lucille inginkan, kelas mulai berbisik-bisik dan beberapa siswa mengangguk
setuju. Leon melihat sekitarnya dan melihat Maria yang mengajukan judul itu,
berjaga jika Maria akan murka dan memulai keributan dengan Lucille. Mereka
berdua dengan terang-terangan menampakkan rasa bersaing. Dan Leon tak habis pikir
apa yang mereka rebutkan. Tapi Leon melihat Maria tak menunjukkan tanda-tanda
terganggu dengan ide itu. Maria terlihat juga mempertimbangkan apa yang
dikatakan Lucille.
“kurasa itu benar juga” ucap Ethan.
“iya juga sih… tak mungkin jadi pentas yang membuat
penasaran ya…” ujar Maria akhirnya.
Leon lega, karena ternyata Maria cukup bisa
membaca kondisi ini. Dan sebenarnya, ia sangat lega tak harus terlibat
pertengkaran yang menyebalkan. Akhirnya ia mulai memikirkan ide yang diajukan
oleh Lucille. Ia pikir, memang benar jika hanya mementaskan apa yang telah
sering didengar, dibaca atau dilihat oleh penonton, penonton akan bisa menebak
dan memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Itulah yang akan membuat
penonton bosan. Itu tak mungkin menjadi pentas yang memukau. Jadi, mau tak mau,
mereka harus menambah beberapa kejutan yang keluar dari jalur cerita. Tapi,
jika ditambah beberapa adegan, itu akan mempengaruhi adegan lain dan akan sulit
untuk menyesuaikannya. Untuk kesekian kalinya Leon bingung mencari solusinya.
“jadi? Apa yang kau ajukan sebagai solusinya,
Mortmaiden?” ucap Maria tiba-tiba.
“hmmm… karena menurutku cerita itu terlalu sering
direvisi dan diperbaiki disana-sini, tentu saja cerita itu jadi sangat
berlebihan dan cenderung membosankan…” jelas Lucille.
“yaah… kurasa juga begitu…” ujar seorang siswa
lain.
“iya, adikku juga menganggap itu membosankan
karena jalan ceritanya tak masuk akal…” ujar yang lainnya.
“kenapa kok tidak masuk akal?” ujar Ethan.
“yaah, karena kan tidak ada kisah cinta yang
begitu lancar seperti di Ice and Snow…” ujar Leon.
“akh!! Aku baru menyadarinya!!” ujar Ethan kaget.
“plus 20 poin untukmu, Fortistert!” sambungnya.
“poin?” tanya Lucille, melirik ke Ethan.
“buat apa poin ini?” tanya Leon sembari memandang
heran kepada Ethan.
“erg… tak ada, tak apa-apa, hanya bicara sendiri”
ujar Ethan gelagapan.
“kau aneh…” kata Maria.
“bicara sendiri yaa…” kata Lucille menekankan
nadanya dengan lirikan penuh arti ‘apa yang kau rencanakan?’ pada Ethan. Ethan
hanya membalasnya dengan cengiran konyol.
“jadi? Yang ingin kau ajukan?” tanya Leon pada
Lucille.
“yaaa… karena kebanyakan cerita cinta itu akhirnya
happy ending, gimana kalau kita tampilkan hal yang sebaliknya?” ujar Lucille.
“maksudmu?” tanya Maria.
“kenapa tidak kita berikan cerita cinta dengan
akhir tragis?” ujar Lucille bersemangat. Kelas kembali agak ribut membicarakan
ide itu. Mereka sedikit penasaran dengan ide Lucille.
“well, maksudnya? Kita buat cerita baru?” ujar
Leon.
“no… tak perlu… kita pakai saja Ice and Snow, tapi
kita rubah alur ceritanya…” Lucille menjelaskan.
“tapi itukan justru bakal merubah seluruh isinya?”
ujar Ethan.
“tentu saja, itu tak mungkin akan cocok dengan
judulnya! Kau bodoh ya?” ujar Maria.
“wew, perubahan isi tentu aja akan berdampak sama
judulnya, mana mungkin aku tak menyadarinya… ya kita ubah juga judulnya…” ujar
Lucille sambil tersenyum.
“itu bukan Ice and Snow lagi dong…” ujar seorang
siswa.
“tetap Ice and Snow kalau kita ubah jadi The Dark
Side of Ice and Snow, kan?” kata Leon. Semua mata memandang padanya. Leon juga
baru terpikir judul itu dan tanpa sadar langsung melontarkannya.
“yaaah… kalau tak keberatan…” katanya agak salah
tingkah. Kelas hening sejenak.
“kurasa itu bisa digunakan…” kata siswa lain.
“ya… masih terasa seperti Ice and Snow, tapi
mengandung misteri…” ujar lainnya.
“menarik…” ujar siswa lain.
“tak buruk juga…” kata Lucille menatap puas pada
Leon dengan pandangan ‘kau berhasil’.
“ya… pakai itu saja deh, “ kata Maria bersemangat.
“kau sih apapun usul Leon pasti kau terima” ujar
Lucille.
“heh? Maksudnya?” tanya Leon.
“tidak… tidak ada apa-apa… be…nar… kan…,
Mortmaiden?” kata Maria sambil menatap Lucille dengan arti ‘tutup mulutmu’.
“yeah… yeah…” kata Lucille cuek.
Akhirnya mereka setuju dengan usulan judul itu,
dan memutuskan akan mengajukan judul itu untuk acara pentas seni. Mereka
memutuskan menghentikan rapat itu dan dilanjutkan besok saat istirahat siang
untuk menentukan tugas setiap orang. Tentu saja perannya akan ditentukan
belakangan setelah skrip terselesaikan. Dan begitulah rapat itu selesai hari
itu dengan ide yang memuaskan.
* * * * *
Lucille tengah mengemas semua bukunya dan bersiap
untuk pulang saat sebuah bola kertas kembali menghantam wajahnya. Ia tak lagi
kaget menoleh bola kertas itu dan tentu saja telah bisa menebak siapa yang
melemparnya. Maria, pikirnya. Dengan malas, ia membuka bola kertas itu dan
membaca tulisan mungil yang berjejer rapi itu.
Boleh juga idemu. Dapat pencerahan darimana itu?
Kau sengaja
ingin menarik perhatian Leon ya, dasar menyebalkan!
Lucille menghela napasnya agak dalam. Kenapa Maria
tak langsung bicara saja sih dengannya. Lucille tau Maria adalah anak yang
baik, Maria pasti akan menjadi teman yang enak diajak kemanapun, atau berbicara
apapun dengannya. Karena Lucille berpikir Maria adalah tipe yang sama
dengannya, sama-sama suka tantangan yang seru. Tapi, yang berbeda hanya, jika
Maria tipe yang berapi-api, Lucille adalah tipe yang tenang dan cuek. Lucille
dengan enggan mengambil pulpennya dan hendak menulis balasannya, hingga sebuah
tepukan mengejutkannya dari belakang.
“tak pulang?” ujar Ethan dibelakang Lucille dengan
senyum di wajahnya.
“kau tampaknya senang sekali” ujar Lucille.
“tentu! Aku sudah bosan sejak tadi, ayo pulang!!”
ujar Ethan bersemangat.
“kenapa tak pulang sendiri?” kata Lucille dengan
tampang bosan.
“wew, ayolah, kaukan kuajak pulang bareng, kesempatan
langka lho pulang bareng saya…” ujar Ethan.
“ge er sekali…” ujar Lucille cuek.
“ok, ku tunggu dibawah” ujar Ethan sambil berlalu
pergi.
“aku tak…” Lucille memandang sebal pada temannya
itu.
“ah ya, idemu tadi cemerlang! Tak heran itu
darimu…” ujar Ethan sembari pergi melewati koridor kelasnya.
Lucille menghela napas lagi. Ia berpikir, kali ini
ia menghela napas terus sembari tadi, bisa-bisa umurnya pendek. Kemudian ia
menatap tangannya dan kertas didepannya. Ah, ya… aku ingin menulis balasan,
pikirnya. Sejenak ia membaca kembali tulisan Maria, dan hendak menulis
balasannya saat bola kertas kembali bergulir di mejanya. Apalagi?, pikirnya. Ia
membuka bola kertas itu dan membaca isinya.
Hebat sekali kau.
Belum
juga Leon, Ethan Forkinhill juga kau incar.
Aih, Maria. Ah ya, ia tak tau kalau Ethan adalah
teman masa kecilku. Tentu saja ia berpikir seperti itu. Akhirnya ia malas
memikirkan apa yang akan ia tulis di balasannya dan memutuskan untuk
menghampiri Maria. Ia memasukkan semua alat tulisnya dan membuang kertas-kertas
itu kemudian menyandang tasnya dan berjalan menghampiri Maria yang tengah
berkemas untuk pulang. Ia menarik kursi didepan meja Maria dan menghadapkannya
pada Maria, kemudian duduk dengan menatap Maria. Ia melihat mata bulat Maria
kaget dengan tingkahnya dan ia pikir itu cukup lucu, jadi ia sedikit menahan
tawa.
“apa yang kau lakukan?” ujar Maria.
“duduk” kata Lucille cuek.
“siapa bilang kau tidur, siapa yang
memperbolehkanmu duduk didepanku” ujar Maria kesal.
“tak ada yang melarangnya” ujar Lucille lagi.
Maria memandangnya sebal.
“aku yang melarangnya…!” katanya.
“tapi kau bukan pemilik kursi ini” kata Lucille.
Dengan senyuman.
“kau…” ujar Maria kesal dan mengurungkan niatnya.
Ia hanya menatap sebal pada Lucille.
“Maria, tak bisakah kita bicara normal saja?”ujar
Lucille akhirnya.
“maksudmu?” tanya Maria.
“yeah… bicara seperti ini, tak usah menyampah dengan
menulis surat-surat itu, tanganku capek” ujar Lucille.
“aku malas bicara dengan orang miskin sepertimu”
ujar Maria.
“benarkah?” tanya Lucille memandang lurus ke mata
Maria.
Maria melihat Lucille ingin membalas perkataannya.
Tapi, ia terpaku melihat Lucille memandang lurus kepadanya dengan ekspresi
serius. Ia tak pernah melihat Lucille seperti itu. Rasanya ia sedikit terdorong
mundur.
“ap…” kata Maria.
“benarkah kau berpikir seperti itu? Memang itu
penilaianmu padaku?” ujar Lucille tegas. Maria sedikit kalah nyali. Ia tak
pernah membayangkan ada orang yang langsung bertanya penilaian orang lain
setegas itu.
“apa sih…” ujarnya tak menemukan balasan yang
tepat.
“aku tau Maria, aku mengerti…” ujar Lucille.
“apanya! Kau mengerti apa?” kata Maria kesal.
Entah apa yang membuatnya kesal.
Lucille mencondongkan tubuhnya mendekati Maria dan
tetap menatap mata Maria. Maria bergeser kebelakang sedikit agak takut dengan
sikap Lucille yang tak biasa itu. Mata mereka saling pandang, namun tak seperti
biasanya, Maria akan melotot pada Lucille, kali ini ia kalah. Ia ingin
memalingkan wajahnya tapi ingin tetap bertahan pada adu pandang itu. Ia melihat
Lucille melebarkan sedikit senyum dan binar dimatanya.
“aku bisa mengerti apa yang ada di dirimu…”
ujarnya dengan senyum.
“ap…?! Kau tak tau apa-apa tentangku, jangan asal
menil…” celoteh Maria.
“begitulah, kau juga tak tau apa-apa tentangku,
jadi jangan asal menilaiku seenaknya…” ujar Lucille memotong perkataan Maria.
Maria kaget, dan kesal. Tapi ia tak bisa membalas perkataan Lucille.
“tapi, ada satu hal yang aku tau pasti tentangmu
Maria…” ujar Lucille.
“ap?! Jangan panggil namaku seenaknya!” bentak
Maria.
“aku tau pasti, kau bukan orang yang menyebalkan,
kau orang baik” ujar Lucille.
“a…” kata Maria tak tau apa yang harus
dikatakannya.
“jadi kita harus berteman baik dan bersaing
jujur…” kata Lucille. Ia kemudian berdiri dan mengembalikan kursinya ketempat
semula.
“aku bukan orang baik!” protes Maria. Lucille
menoleh padanya, dan tersenyum kembali.
“seseorang yang bilang dirinya bukan orang baik,
dia justru lebih baik dari itu” kata Lucille sambil melangkah pergi. Maria
menatap Lucille menjauh, tapi tak menemukan kata-kata untuk membalas
perkataannya, ia sedikit malu. Baru kali ini ada orang yang berkata seperti itu
dengan tampang serius seperti Lucille. Tak lama, Lucille berbalik menatapnya
lagi.
“ngomong-ngomong tak apakan aku panggil Maria?
Namamu tak ada kutukannya kan? Kau juga boleh panggil aku Lucy…” kata Lucille dengan
senyum lebar. Lalu melangkah pergi kembali.
“siapa yang mau!” ujar Maria kesal, tapi setelah
itu ia tersenyum kecil dikursinya.
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_

