Aku duduk dengan suasana hati yang gembira.
Dibenakku telah terbayang 2 minggu acara pentas seni dan olahraga yang akan di
adakan 3 bulan lagi. 2 minggu bebas pelajaran. Aku akan mengajaknya kencan. Dia
yang selalu aku perhatikan. Pujaan hatikuu, kyaaaa…. (>,<). Pikiranku
penuh, hingga kuabaikan semua orang yang berbicara padaku untuk memintaku
pulang bersama mereka. Maklum, aku kan lumayan terkenal, mereka bilang aku
cantik seperti boneka dengan rambut keriting berwarna pirang dan mata besar
berwarna biru langit, kulit putih, wajah bundar dan tubuh mungil. Tentu saja
aku sangat sadar diri dengan keadaanku. Dan aku selalu mencoba untuk bersikap
anggun seperti penampilanku. Kalau tidak ayah dan ibu pasti membunuhku karena
akan mempermalukan nama keluarga Luthart. Sedikit mengekang, tapi kalau aku
bisa memenangkan hatinya, itu hal yang mudah, sangat mudah bahkan. Aku memangku
tanganku, membayangkan wajah tampan sang pujaan hati, mata hitam tegas, rambut
cepak berwarna hitam, kulit yang terbakar matahari karena selalu ada di
lintasan lari, tubuh atletis.. membayangkan itu saja sudah membuatku melayang.
Untuk catatan, aku bukan orang mesum, aku wanita terhormat.
Jam istirahat siang sudah berakhir, saat dikoridor
aku melihatnya dipanggil oleh wali kelas, pasti mereka membicarakan tentang
pentas drama yang akan ditampilkan. Aku sudah menyiapkan judul yang cocok
dengan pentas itu. Cerita cinta, cerita yang telah terkenal dikota ini, Ice and
Snow. Cerita yang sangat romantis, bahkan aku sampai hapal semua jalan
ceritanya, daaan tentu saja aku dan dia yang akan memerankan dua tokoh
utamanya. Hihihi… membayangkannya sudah membuatku tertawa sendiri. Tak lama
kemudian, dia datang dan membuka pintu. Dia berjalan kedepan kelas dan
memandang seluruh isi kelas.
Aku hanya tersenyum sambil mengamatinya,
memutar-mutar ujung rambutku berharap dia memperhatikan wajah imutku ini. Tapi
harapanku tak juga tercapai. Ia memandang seluruh siswa dengan tatapan sama.
Tak ada yang spesial. Bagiku, orang sepertinya yang tidak memperhitungkanku
justru semakin menantang untuk ditaklukkan, benarkan? Bagiku yang selalu
dikelilingi oleh laki-laki, dia melihatku setara dengan gadis lain, benar-benar
cowok yang menggiurkan. Catatan, aku sama sekali tidak ngiler saat mengatakan
menggiurkan. Aku telah lama menyukainya, sejak di tingkat 1. Selalu
memperhatikannya, mencatat kegiatan sehari-harinya, mencari tahu rumahnya,
mengikutinya saat di pergi kesuatu tempat, mencatat kebiasaannya, laluu….
Sekali lagi, catatan, aku bukan penguntit.
Ia berdiri disana kewalahan menenangkan kelas yang
minta ampun ributnya. Aku kesal, kenapa mereka tidak mendengarkannya, sih? Lalu
aku menyisir setiap wajah teman sekelasku dan melihat orang itu di pojok kelas.
Dia dengan cuek menjungkitkan kursinya, menatap pujaan hatiku lalu
menghembuskan napas panjang. Apaan itu? Si miskin jelek Mortmaiden itu
meremehkan Leon! Grrrrr…
“ apa tak ada ide yang lebih menarik dan masuk
akal untuk pentas seni 3 bulan lagi? “ kudengar Leon berkata dengan tenang.
Kelas diam sejenak dan ribut kembali. HEEEIII!!!!
Dengarkan dia ngomong dong. Kalian benar-benar menyebalkan. Kukutuk kalian
sampai mati, huh!!! Lama sekali kelas itu ribut, aku kembali menatap marah pada
para tukang ribut itu, tapi tak ada yang menyadarinya. Saat aku melihat si
Miskin itu, aku melihatnya kembali menatap Leon dengan bosan dan menghela napas
lebih panjang. Apaaaaa…????? Pikirku marah dan jengkel.
“kenapa tidak kumpulkan tema yang ada aja dulu
baru judul belakangan” katanya dengan tenang.
Hah? Enak sekali si Miskin itu bicara dengan
entengnya? Coba kau saja yang ada didepan dan kita lihat apa yang akan terjadi.
Idemu itu benar-benar menyebalkan, pikirku. Tapi ternyata Leon berpikir lain,
ia menyukai ide si Miskin itu, dan menyuruh kami mengajukan tema untuk dipilih
nantinya. Aku melongo, uuuggghh… kekesalanku pada si Miskin itu bertambah
besar. Tapi, kesempatan ini tak akan kubuang, aku mengangkat tanganku dan
berbicara.
“cerita cinta” ujarku.
“ok, tolong catat” jawabnya kepada sekretaris
disampingnya.
Aku gembira, senang bukan kepalang, dia melihatku
saat bicara. Mau pingsan rasanya (>,<). Tak lama terkumpul 4 tema untuk
pentas, dan kami diminta untuk voting memilih salah satu dari ke empat tema
itu. Tentu saja aku memilih cinta, karena aku mengharapkan cerita yang indah
dengan aku dan Leon sebagai peran utamanya. Kemudian, Leon membacakan hasil
voting, dan saat dia menghitung voting itu dia mematung. Gimana tidak, dari 4
tema itu semuanya memiliki poin suara sama, ini bencana!!! Aku menoleh marah
pada si Miskin dan kulihat dia menatap Leon dengan tatapan kasihan. Lihat apa
yang kau lakukan! Aku akan mengutukmu, akan kubuat hidup sekolahmu suram! Aku
takkan memaafkanmu Mortmaiden! Tak akan!
Mauku sih begitu, aku ingin membuatnya tidak
datang ke sekolah lagi. Itu hal yang mudah, dengan membayar beberapa orang
untuk melakukan bully padanya, atau memanfaatkan kekuasaan ayahku untuk
mendepaknya dari sekolah. Tapi maaf, aku bukan orang seperti itu. Aku pesaing
dan petarung. Akan kulakukan hal apa saja untuk mendapatkan kemauanku, tapi
bukan dengan cara pengecut. Aku tau si Miskin itu memiliki perasaan pada Leon.
Dan karena dia selalu mendapat nilai yang baik, dia mendapatkan beasiswa
gemilang. Karena itu dia rivalku yang berharga untuk dihilangkan dalam sekejap.
Seperti yang kukatakan aku adalah seorang
petarung. Seorang rival yang bagaikan karang dan tebing curam justru menantang
untuk dihancurkan. Akan kubuktikan kalau aku lebih baik darinya dengan cara
sportif dan akan ku menangkan hati Leon. Yaaah, walau terkadang aku lebih
mendahulukan cemooh dan ejekan untuk menenangkan debaran hatiku saat tertantang
sih. Alhasil aku lebih dinilai sebagai putri manja ketimbang sebagai pesaing.
Tapi tak apa, aku tak terlalu memikirkannya, walaupun sakit. Sakit juga jika
tidak ada yang menyadari siapa dirimu yang sesungguhnya, teman, sahabat,
semuanya hanya dekat denganku karena aku anak pemilik sekolah, mereka tidak
melihatku yang sebenarnya. Sebenarnya ‘siapa aku’ dimata mereka? Hhhh… kenapa
jadi melo begini? Pokoknya, aku akan buat kamu menyesal Mortmaiden! Karena
telah membuat Leon susah dengan ide konyolmu barusan. Ingat saja, tak ada yang
boleh main-main denganku, Mariabelle Luthart.
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_




