STAGE 3. MARIABELLE LUTHART

| Sabtu, 27 Juli 2013 | 0 komentar |
Aku duduk dengan suasana hati yang gembira. Dibenakku telah terbayang 2 minggu acara pentas seni dan olahraga yang akan di adakan 3 bulan lagi. 2 minggu bebas pelajaran. Aku akan mengajaknya kencan. Dia yang selalu aku perhatikan. Pujaan hatikuu, kyaaaa…. (>,<). Pikiranku penuh, hingga kuabaikan semua orang yang berbicara padaku untuk memintaku pulang bersama mereka. Maklum, aku kan lumayan terkenal, mereka bilang aku cantik seperti boneka dengan rambut keriting berwarna pirang dan mata besar berwarna biru langit, kulit putih, wajah bundar dan tubuh mungil. Tentu saja aku sangat sadar diri dengan keadaanku. Dan aku selalu mencoba untuk bersikap anggun seperti penampilanku. Kalau tidak ayah dan ibu pasti membunuhku karena akan mempermalukan nama keluarga Luthart. Sedikit mengekang, tapi kalau aku bisa memenangkan hatinya, itu hal yang mudah, sangat mudah bahkan. Aku memangku tanganku, membayangkan wajah tampan sang pujaan hati, mata hitam tegas, rambut cepak berwarna hitam, kulit yang terbakar matahari karena selalu ada di lintasan lari, tubuh atletis.. membayangkan itu saja sudah membuatku melayang. Untuk catatan, aku bukan orang mesum, aku wanita terhormat.
Jam istirahat siang sudah berakhir, saat dikoridor aku melihatnya dipanggil oleh wali kelas, pasti mereka membicarakan tentang pentas drama yang akan ditampilkan. Aku sudah menyiapkan judul yang cocok dengan pentas itu. Cerita cinta, cerita yang telah terkenal dikota ini, Ice and Snow. Cerita yang sangat romantis, bahkan aku sampai hapal semua jalan ceritanya, daaan tentu saja aku dan dia yang akan memerankan dua tokoh utamanya. Hihihi… membayangkannya sudah membuatku tertawa sendiri. Tak lama kemudian, dia datang dan membuka pintu. Dia berjalan kedepan kelas dan memandang seluruh isi kelas.
Aku hanya tersenyum sambil mengamatinya, memutar-mutar ujung rambutku berharap dia memperhatikan wajah imutku ini. Tapi harapanku tak juga tercapai. Ia memandang seluruh siswa dengan tatapan sama. Tak ada yang spesial. Bagiku, orang sepertinya yang tidak memperhitungkanku justru semakin menantang untuk ditaklukkan, benarkan? Bagiku yang selalu dikelilingi oleh laki-laki, dia melihatku setara dengan gadis lain, benar-benar cowok yang menggiurkan. Catatan, aku sama sekali tidak ngiler saat mengatakan menggiurkan. Aku telah lama menyukainya, sejak di tingkat 1. Selalu memperhatikannya, mencatat kegiatan sehari-harinya, mencari tahu rumahnya, mengikutinya saat di pergi kesuatu tempat, mencatat kebiasaannya, laluu…. Sekali lagi, catatan, aku bukan penguntit.
Ia berdiri disana kewalahan menenangkan kelas yang minta ampun ributnya. Aku kesal, kenapa mereka tidak mendengarkannya, sih? Lalu aku menyisir setiap wajah teman sekelasku dan melihat orang itu di pojok kelas. Dia dengan cuek menjungkitkan kursinya, menatap pujaan hatiku lalu menghembuskan napas panjang. Apaan itu? Si miskin jelek Mortmaiden itu meremehkan Leon! Grrrrr…
“ apa tak ada ide yang lebih menarik dan masuk akal untuk pentas seni 3 bulan lagi? “ kudengar Leon berkata dengan tenang.
Kelas diam sejenak dan ribut kembali. HEEEIII!!!! Dengarkan dia ngomong dong. Kalian benar-benar menyebalkan. Kukutuk kalian sampai mati, huh!!! Lama sekali kelas itu ribut, aku kembali menatap marah pada para tukang ribut itu, tapi tak ada yang menyadarinya. Saat aku melihat si Miskin itu, aku melihatnya kembali menatap Leon dengan bosan dan menghela napas lebih panjang. Apaaaaa…????? Pikirku marah dan jengkel.
“kenapa tidak kumpulkan tema yang ada aja dulu baru judul belakangan” katanya dengan tenang.
Hah? Enak sekali si Miskin itu bicara dengan entengnya? Coba kau saja yang ada didepan dan kita lihat apa yang akan terjadi. Idemu itu benar-benar menyebalkan, pikirku. Tapi ternyata Leon berpikir lain, ia menyukai ide si Miskin itu, dan menyuruh kami mengajukan tema untuk dipilih nantinya. Aku melongo, uuuggghh… kekesalanku pada si Miskin itu bertambah besar. Tapi, kesempatan ini tak akan kubuang, aku mengangkat tanganku dan berbicara.
“cerita cinta” ujarku.
“ok, tolong catat” jawabnya kepada sekretaris disampingnya.
Aku gembira, senang bukan kepalang, dia melihatku saat bicara. Mau pingsan rasanya (>,<). Tak lama terkumpul 4 tema untuk pentas, dan kami diminta untuk voting memilih salah satu dari ke empat tema itu. Tentu saja aku memilih cinta, karena aku mengharapkan cerita yang indah dengan aku dan Leon sebagai peran utamanya. Kemudian, Leon membacakan hasil voting, dan saat dia menghitung voting itu dia mematung. Gimana tidak, dari 4 tema itu semuanya memiliki poin suara sama, ini bencana!!! Aku menoleh marah pada si Miskin dan kulihat dia menatap Leon dengan tatapan kasihan. Lihat apa yang kau lakukan! Aku akan mengutukmu, akan kubuat hidup sekolahmu suram! Aku takkan memaafkanmu Mortmaiden! Tak akan!
Mauku sih begitu, aku ingin membuatnya tidak datang ke sekolah lagi. Itu hal yang mudah, dengan membayar beberapa orang untuk melakukan bully padanya, atau memanfaatkan kekuasaan ayahku untuk mendepaknya dari sekolah. Tapi maaf, aku bukan orang seperti itu. Aku pesaing dan petarung. Akan kulakukan hal apa saja untuk mendapatkan kemauanku, tapi bukan dengan cara pengecut. Aku tau si Miskin itu memiliki perasaan pada Leon. Dan karena dia selalu mendapat nilai yang baik, dia mendapatkan beasiswa gemilang. Karena itu dia rivalku yang berharga untuk dihilangkan dalam sekejap.
Seperti yang kukatakan aku adalah seorang petarung. Seorang rival yang bagaikan karang dan tebing curam justru menantang untuk dihancurkan. Akan kubuktikan kalau aku lebih baik darinya dengan cara sportif dan akan ku menangkan hati Leon. Yaaah, walau terkadang aku lebih mendahulukan cemooh dan ejekan untuk menenangkan debaran hatiku saat tertantang sih. Alhasil aku lebih dinilai sebagai putri manja ketimbang sebagai pesaing. Tapi tak apa, aku tak terlalu memikirkannya, walaupun sakit. Sakit juga jika tidak ada yang menyadari siapa dirimu yang sesungguhnya, teman, sahabat, semuanya hanya dekat denganku karena aku anak pemilik sekolah, mereka tidak melihatku yang sebenarnya. Sebenarnya ‘siapa aku’ dimata mereka? Hhhh… kenapa jadi melo begini? Pokoknya, aku akan buat kamu menyesal Mortmaiden! Karena telah membuat Leon susah dengan ide konyolmu barusan. Ingat saja, tak ada yang boleh main-main denganku, Mariabelle Luthart.


_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_

STAGE 2. LUCILLE MORTMAIDEN

| Sabtu, 20 Juli 2013 | 0 komentar |
Mimpi burukku ini berawal dari 3 jam yang lalu, saat wali kelas memanggilku keruang guru.
“tolong segera tentukan apa yang akan kalian angkat sebagai tema pentas drama 3 bulan lagi” ujar pria paruh baya tersebut.
“baik ” mau tidak mau aku harus menjawab begitukan.
“sekalian tentukan judulnya, saya tunggu besok, atur pemain dan buat skripnya, saya tunggu 2 minggu lagi, dan segera susun jadwal latihan bergantian dengan 6 kelas lainnya” ujarnya lagi.
“maaf pak? Apa tidak terlalu cepat? Saya rasa…” ujarku.
“tidak sanggup?” tantangnya.
“tidak pak, saya sanggup” itulah kata-kata yang akan kusesali.
5 menit kemudian aku keluar dari ruang guru dan menyesal. Selalu. Kusesali sifatku yang merasa ingin menerima tantangan. Dan sekarang aku harus bisa menyerahkan judul pentas besok pagi. Sial, pikirku. Bukannya memang tidak sanggup, tapi jika kau ada di kelas itu dan mendengar pendapat atau adu pendapat dengan mereka, yang ada kau hanya akan pusing dan ingin bunuh diri saja. Mereka teman sekelas yang baik dan patuh, tapi kalau soal menyumbang ide, mereka takkan mau kalah walau dari teman sekelasnya sendiri. Baik memang memiliki kelas yang kreatif, tapi neraka bagi orang yang harus menyatukan ide mereka. Dan aku ada di posisi itu. Akhirnya aku hanya bisa kembali dengan menghela nafas.
Saat kubuka pintu kelas semua memandangku. Aku melangkah masuk dan berdiri di depan kelas, memandang seluruh isi kelas, melihat dan memastikan semuanya telah ada dikursinya masing-masing. Semua memandang kearahku, kecuali satu orang. Gadis itu memejamkan matanya menoleh kearah jendela yang terbuka sambil memangku tangannya. Angin berembus mengibarkan rambut coklatnya dan cahaya matahari membuat kulitnya yang putih semakin putih. Wajahnya yang bulat itu tak bergembing seakan ia tidur dan hanyut dalam mimpinya. Ok, bukan waktunya untuk itu. Aku kembali memandang seluruh isi kelas.
“tadi aku dari ruang guru… wali kelas menyuruh kita segera menentukan judul yang akan kita bawa di pentas seni dan olahraga 3 bulan lagi, dan judul itu harus sudah ada besok, beliau membebaskan 4 jam terakhir untuk rapat ini” ujarku awalnya.
Kulihat kembali keseluruh kelas, dan hal yang paling kutakutkan muncul. Mata mereka berbinar-binar. Seakan-akan aku bisa melihat tulisan diwajah mereka ‘judulku yang akan dipakai!!’ dan itu sedikit membuat perutku kelu untuk mengucapkan kata-kataku berikutnya. Namun gadis itu tetap asik dengan kegiatannya dan tak menghiraukan kata-kataku.
“ada yang punya ide..?” ucapku akhirnya dengan sedikit gusar.
Dan benar saja, kelas langsung ribut dan menyemburkan berbagai macam judul. Oh man, pikirku. Banyak ide yang mereka berikan, hingga aku tak bisa mendengar mereka dengan jelas, yang kudengar hanya suara bising seperti ribuan lebah yang murka disekitarku. Kulihat gadis itu membuka matanya dan menoleh melihat seluruh isi kelas. Ia bergumam. Tapi aku bisa menebak apa yang ia katakan ‘berisik sekali’ pasti itu yang ia gumamkan. Wajahnya terlihat bosan. Dia memandangku dengan mata coklat terangnya yang besar , kemudian menghela napas. Good, sekarang aku dikasihani. Kelas tetap ribut, keributan yang mengesalkan. Aku menarik napas dalam, menundukkan kepalaku dalam-dalam dan memejamkan mataku. Kesal.. kesal…kesal.. lalu kubuka mata dan kupandang seluruh isi kelas lekat-lekat.
“ apa tak ada ide yang lebih menarik dan masuk akal untuk pentas seni 3 bulan lagi? “ ucapku akhirnya sedikit memperlihatkan kekesalanku.
Mereka terdiam, bagus pikirku. Tapi pikiran itu langsung rontok begitu mereka mulai ribut kembali, bahkan jauh lebih buruk. Oh, boy pikirku. Kesalahan yang mengerikan, kata-kataku justru menyulut semangat mereka untuk menekankan judul yang mereka ajukan. Kenapa siswa tingkat 2 harus mengadakan drama? Kenapa bukan kerajinan seperti tingkat 1 jadi kami tak perlu repot menentukan tema, tapi pasti akan repot menentukan jenis produk, itu bahkan lebih buruk. Kenapa bukan orkes seperti tingkat 3 jadi kami hanya menyanyi saja, kupikir kembali, olah vocal itu benar-benar neraka, oke, jadi mungkin pentas drama yang terbaik. Tapi, sama saja, ini neraka. Kemudian aku tersentak melihat gadis itu mengacungkan tangannya.
“kenapa tidak kumpulkan tema yang ada aja dulu baru judul belakangan” katanya tenang.
Wow, great! Ide bagus, kalau pertama kita tentukan temanya, maka judul yang akan muncul akan tambah sedikit. Kau hebat! Ide brilian, pikirku.
“ok… makasih masukannya, sekarang… silakan kalian bilang ide kalian satu per satu… temanya saja, tak usah judul, sekretaris, tolong catat di papan” ujar ku.
Kelas terdiam kembali, sekarang mereka tidak kembali ribut. Seorang siswi dari belakang yang menjabat sebagai sekretaris kelas berdiri dan berjalan kedepan, mengambil spidol dan bersiap menuliskan ide yang muncul. Hening.
“ada yang mau menyumbang ide?” ujarku lagi.
Tak lama, mucul 4 ide tema dari semuanya, cerita cinta, horror, komedi dan sejarah. Jujur bagiku tak ada yang menarik, tapi aku lebih memilih sejarah. Aku memperhatikan tema-tema itu, mengamatinya dan memahami kira-kira judul apa yang akan muncul. Kemudian aku berbalik.
“tolong siapkan kertas dan tulis nama kalian, juga pilih tema yang kalian suka, kita voting sekarang” ujarku.
Aku langsung menuliskan namaku dan tema yang kupilih dikertas dan meletakkannya ke meja guru. Begitu juga yang lainnya. Setelah sekitar 20 menit menulis, tumpukan kertas sudah ada di meja guru, aku dan sekretaris kelas berdiri dan bersiap membacakan voting. Satu demi satu kertas kubaca, dan sekretaris menulis hasilnya, lalu diakhiri dengan membaca kertas milikku sendiri.
 “hitunglah” ujarku pada sekretaris berharap hal ini akan segera selesai.
Tapi itu mimpi. Aku tercengang melihat hasil voting. Aku memejamkan mataku berharap mataku hanya lelah dan salah lihat. Lalu aku membuka mataku kembali dan tulisan itu tidak berubah. Aku berterik dalam hati… oh GOD, KILL ME NOW!! Bagaimana bisa hasilnya seperti ini? Bagaimana bisa dari 4 tema nilai votingnya bisa sama? Kebetulan apa ini? Sihir? Takdir? Aku menoleh ke gadis yang memberikan ide itu dengan tatapan lemas. Kurasa idemu tak berjalan lancar, Lucille Mortmaiden.



_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_

STAGE 1. LEON FORTISTERT

| Sabtu, 13 Juli 2013 | 0 komentar |
    Aku memejamkan mataku, merasakan sapuan angin lembut diwajahku, kudongakkan kepalaku dan kurasakan kehangatan di wajahku, sinar mentari berwarna putih kelabu menembus kelopak mataku dan menyilaukan mataku hingga terlihat bayangan berwarna jingga kekuningan. Kunikmati ketenangan yang kurasakan sekarang. Kehangatan dan kesejukan, dua sensasi yang kurasakan secara bersamaan, menenangkan. Itu yang kurasakan sebelum kubuka mataku dan kembali kekenyataan. Dalam sekejap suara-suara bising itu kembali. Gumaman, tawa, teriakan, protes, ide. Semua langsung menyerbu telingaku. Ku pejamkan sebelah mataku dan kuusap telinga kiriku sebentar.
“ berisik sekali “ ujarku pelan.
Aku melayangkan padanganku ke seluruh bagian kelas, bermacam ekspresi memenuhi kelas itu, antusias, semangat, gembira, tak peduli. Tentu saja aku tak termasuk kesemuanya, aku… entah ekspresi apa yang kunampakkan sekarang. Hhhh… kapan keributan ini selesai, pikirku.  Kusandarkan diriku ke kursi dan kujungkitkan sedikit kebelakang, kemudian kulayangkan pandanganku pada orang yang berdiri didepan kelas ditengah keributan itu. Wajah dengan kulit coklat dan mata hitam, menatap keseluruh kelas. Ia berbicara dan menenangkan keributan itu. Kelihatannya dia kewalahan. Bahkan dia dengan sikap tegasnya kewalahan dalam keributan ini, bagaimana jadinya? Lucu juga, seorang ketua kelas yang dipilih karena dia memiliki sikap tegas yang tak tergoyahkan, kewalahan menghadapi semburan keributan dari 38 anak buahnya. Dia menegakkan punggungnya, sekarang terlihat bahwa dia bertubuh tinggi dan atletis, sosok yang cocok dengan kegiatannya sebagai ketua klub lari. Dia menarik napas dalam sambil memejamkan matanya, menunduk sedikit. Sekarang aku hanya bisa melihat rambut cepak hitamnya dari kursiku. Tak lama kemudian dia mendongak, membuka matanya dan memandang lurus kedepan, keseluruh isi kelas.
“ apa tak ada ide yang lebih menarik dan masuk akal untuk pentas seni 3 bulan lagi? “ ucapnya lantang.
Kelas terdiam sejenak, dan keributan kembali terjadi., bahkan tambah buruk. Setiap individu mencurahkan idenya dan tak mau kalah dengan yang lain. Wow, langkah yang salah untuk menenangkan mereka, ketua, pikirku. Pentas seni untuk perayaan berdirinya sekolah kami akan diadakan 3 bulan lagi bertepatan dengan pentas olah raga. Jadi dalam 2 minggu kami akan terbebas dari sekolah dan mengadakan pentas seni dan olahraga di sekolah. Setiap jajaran kelas diberikan tema yang berbeda. Kelas 1 dengan kerajinannya, kelas 2 dengan dramanya dan kelas 3 dengan orkesnya. Tentu saja siswa kelas 3 akan membuka acara itu pada 2 hari pertama, karena mereka harus segera kembali untuk persiapan ujian. Kasihan, pikirku. Dan disinilah keributan terjadi, 7 kelas murid tingkat 2 yang harus mementaskan drama selama 4 hari berturut-turut, dan kami kebagian hari pertama. So.. mereka sibuk menentukan akan menampilkan apa. Akhirnya aku mengangkat tanganku.
“kenapa tidak kumpulkan tema yang ada aja dulu baru judul belakangan” ujarku tenang.
Kelas diam, kemudian ribut sedikit, orang itu melihatku lurus dengan mata gelapnya dan kembali melayangkan pandangan keseluruh kelas.
“ok… makasih masukannya, sekarang… silakan kalian bilang ide kalian satu per satu… temanya saja, tak usah judul, sekretaris, tolong catat di papan” ujar orang itu tenang.
Kelas terdiam kembali, sekarang mereka tidak kembali ribut. Nah, gitu dong dari tadi, pikirku. Seorang siswi berdiri dan berjalan kedepan. Ia mengambil spidol dan bersiap menuliskan ide yang muncul. Hening. Wow… tak kusangka. Aku melayangkan pandanganku keseluruh isi kelas dan kulihat wajah bingung. Oo.. sekarang aku mengerti, mereka memiliki lebih banyak ide dari yang seharusnya.
“ada yang mau menyumbang ide?” ujarnya lagi.
“cerita cinta” ujar seseorang sambil mengangkat tangannya.
“ok… tolong catat” ujarnya menoleh dan kemudian siswi itu mencatatnya.
“horror” ujar seorang lagi.
“komedi” ujar lainnya.
“sejarah” ujar lainnya.
Tak ada lagi yang mengangkat tangannya. Akhirnya sang ketua menoleh dan memperhatikan keempat tema itu dengan seksama. Membacanya dari atas kebawah. Kemudian dia berbalik.
“tolong siapkan kertas dan tulis nama kalian, juga pilih tema yang kalian suka, kita voting sekarang” ujarnya.
Seluruh kelas menurut, ketua kembali, sekretaris juga kembali kekursi masing-masing untuk menuliskan tema yang mereka pilih. Tak lama, tumpukan kertas terlihat dimeja guru. Sang sekretaris menulis dan si ketua membacakan hasilnya. Satu per satu, ku perhatikan jumlah voting terus bertambah, milikku telah dibaca, dan, saat ku perhatikan, kertas terakhir adalah miliknya. Tebak apa yang kupikirkan. Ini akan gawat… -“-
“kertas terkahir… tema cerita sejarah… Leon Fortistert” ujarnya dan segera berbalik.
“hitunglah” ujarnya pada sekretaris.
Dan benar dugaanku, kertas terakhir tadi membuat bencana. Seluruh tema mendapatkan jumlah suara yang sama. Leon bengong, terdiam. Kebetulan yang mengesalkan pikirku, pasti juga terpikir olehnya. Aku tersenyum. Semangat ya, batinku. Selamat berjuang, Leon Fortistert.

_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_

THE DARK SIDE OF ICE AND SNOW

| Jumat, 12 Juli 2013 | 0 komentar |
holla again...

akhirnya tiba saat dimana gw bisa posting hasil kerja keras gw (what???)...
taraaah~
inilah cerita pertama gw

=======THE DARK SIDE OF ICE AND SNOW======

cerita apakah itu?
mau tau? 
beneran?
kasih tau gak yaaa.... (PLAK...?!)

hhohho...
cerita ini tentang sebuah kelompok siswa yang menemui suatu misteri tentang kota tempat tinggal mereka, gak sih, gak sampe baku hantam dan bunuh bunuhan apalagi mutilasi mutilasian... ke empat siswa ini ditugaskan untuk bikin skrip naskah drama yang menceritakan tentang sisi kebalikan dari sebuah cerita cinta paling terkenal di kota itu (sori, nama sekolah dan kota di rahasiakan untuk menjaga nama baik mereka, aslinya gak punya ide nama)... di tengah proses pembuatan naskah itu, mereka bertemu dengan satu kenyataan yang diluar akal sehat dan dugaan mereka... apakah itu? baca yaa...~

sebenernya cerita ini udah kelar saat gw masih SMA tepatnya sih saat semester 1 di kuliahan (itumah bukan SMA kalee, om~)... tapi karena suatu hal, kecelakaan dan kejadian mengejutkan yang asli menyebalkan, naskahnya menghilang karena virus keparat dari suatu komputer...
alhasil, gw harus tulis ulang, bayangin aja tulis ulang naskah yang udah jadi sama kek kuliah 5 tahun... udah ngalah-ngalahin SKRIPSI kan? SKRIPSI aja 6 bulan kelar (tulisannya, bukan penelitian, analisis dll, dst)...

gw secara khusus berterima kasih kepada Yukiru Sugisaki Sensei, pengarang komik D.N.Angel...
kenapa tuh?
karena draft dasar atau kerangka dasar cerita ini berdasarkan salah satu cerita di komik itu... yah walopun ada sedikit (banyak sih, hampir semua malah) yang di rombak disana sini... :)
penasaran? hanya saya dan Sugisaki sensei yang tau...
gw juga minta maaf pada sensei karena gak ijin-ijin dulu mau pake salah satu plotnya... maklum sensei... gak punya duit yang mau ke Jepang atau kirim surat kesana, sms gak punya pulsa, telpon bakal bangkrut, apalagi harus ketemu langsung, bisa setor nyawa saya...

jadi yaah... silahkan baca... :)
perbaruan stagenya akan keluar tiap hari SABTU jam 00:00 (kalo gw mood dan lagi banyak ide, dan tentu aja lagi senggang)...


_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
THE DARK SIDE OF ICE AND SNOW
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru


_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_

Welcome To Sansushira Zone

| Kamis, 11 Juli 2013 | 0 komentar |
HoLa... 
anda baru memasuki wanderkummer (emang shinra dari CMB?)
becanda, anda sekarang berada di halaman blog gw, wilayah gw, dan kekuasaan gw, (ci ileh.. ga nahan)...

gw, AYU, pengguna blog ini, pemiliknya, seorang cewek yang memakai nama Sansushira Shincishiki Haiiru (jujur aja, lu pada pikir 'buset itu nama apa jembatan london?'), tapi jangan salah, nama asli gw justru lebih menyakitkan dari itu... seorang cewek yang berumur 22 taun (saat ini di ketik), body? hmm... gak seksi ga bohay, alias gemuk, tinggi? ga tinggi-tinggi amat kek tiang listrik, gak nyampe 2 m lah... hobi? yang pasti gak makan orang ato gebuk orang, tapi bunuh orang iya (what the?!), kidding, hobi gue biasa aja kek cewek lainnya, baca buku (komik), nonton film (mutilasi dan psikopat), jalan-jalan (kekuburan), berenang (dilumpur), browsing (berita pembunuhan)... biasa aja kan (?)... warna favorit? hitam sama merah... tinggal? di rumah ortu donk (masa iya di empang?)... cukup sekian dan terima kasih. jika ingin lebih lengkap silahkan hubungi gw, ntar gw kasih CV, KK, SKCK, NPWP lengkap dengan surat lamaran (?!)

back to topic, ,
sebenarnya gw heran gitu, kenapa sih, gw nulis blog kek gini bisa ilang?
pinginnya sih bikin blog baru soalnya blog ini agak-agak gimana gitu titlenya, eh... yang baru malah gw haho..
alhasil gw balik aja lagi pakek ini, untung aja bisa kebuka lagi... bersukur dan tersujud deh...

tapii, setelah gw liat tuh isinya, buseeet.... apa yak... no coment beud buuk...
ya udah, setelah gw berkutat dengan malaikat dan iblis yang membisik di samping kanan dan kiri (mereka pada protes dimasukin disini)...
akhirnya gw memutuskan untuk mendelete semua content disini.
jadi, mulai saat ini, ini adalah tempat gw memback up semuaaa ide cerita dan inti cerita yang bakal gw tulis..


btw, bro, sis... 
karena ini akan jadi blog cerita dan semua curhatan gw tentang hidup gw yang kek sinetron 1000 episode...
tolong dihargain yaa... (berapa emang harganya, paling cepek kan?)
hhahha.... bukan itu maksudnya...
walaopun gak ada hak patennya, tolong di hormati yak,,
dengan hanya membaca saja, tanpa mengkopi apalagi, menduplikat dan memplagiat...
come on bro... kalian punya otak satu-satu, kalo pengen bikin cerita kalian kan bisa duduk depan PC ato lepi dan mulai mengetik...
hargailah tulisan orang laen, bener?
walopun ini dibuat saat waktu berjalan terbuang sia-sia, tetap saja ini ide gila (eh murni) yang ada di otak saya...
walopun ada yang dapet ide dari komik sih...

jadi gw sangat-super-duper-beud mengharapkan anda-anda sekalian para penggemar gw (what?!) untuk menancapkan ini di kepala, (kunti donk?), gak, bukan itu... maksud gw, ehm... yah... gitu deh...

gw harap tulisan-tulisan gw disini bisa kalian baca dengan hati senang,,
sukur-sukur yang lagi sedih bisa baekan...
yang lagi marah bisa tenang...
yang lagi tenang bisa gila (?!)

_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
its Ok..
welcome to my Zone
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru

_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_