Aku memejamkan mataku, merasakan sapuan angin lembut diwajahku, kudongakkan kepalaku dan kurasakan kehangatan di wajahku, sinar mentari berwarna putih kelabu menembus kelopak mataku dan menyilaukan mataku hingga terlihat bayangan berwarna jingga kekuningan. Kunikmati ketenangan yang kurasakan sekarang. Kehangatan dan kesejukan, dua sensasi yang kurasakan secara bersamaan, menenangkan. Itu yang kurasakan sebelum kubuka mataku dan kembali kekenyataan. Dalam sekejap suara-suara bising itu kembali. Gumaman, tawa, teriakan, protes, ide. Semua langsung menyerbu telingaku. Ku pejamkan sebelah mataku dan kuusap telinga kiriku sebentar.
“ berisik sekali “ ujarku pelan.
Aku melayangkan padanganku ke seluruh bagian kelas, bermacam ekspresi memenuhi kelas itu, antusias, semangat, gembira, tak peduli. Tentu saja aku tak termasuk kesemuanya, aku… entah ekspresi apa yang kunampakkan sekarang. Hhhh… kapan keributan ini selesai, pikirku. Kusandarkan diriku ke kursi dan kujungkitkan sedikit kebelakang, kemudian kulayangkan pandanganku pada orang yang berdiri didepan kelas ditengah keributan itu. Wajah dengan kulit coklat dan mata hitam, menatap keseluruh kelas. Ia berbicara dan menenangkan keributan itu. Kelihatannya dia kewalahan. Bahkan dia dengan sikap tegasnya kewalahan dalam keributan ini, bagaimana jadinya? Lucu juga, seorang ketua kelas yang dipilih karena dia memiliki sikap tegas yang tak tergoyahkan, kewalahan menghadapi semburan keributan dari 38 anak buahnya. Dia menegakkan punggungnya, sekarang terlihat bahwa dia bertubuh tinggi dan atletis, sosok yang cocok dengan kegiatannya sebagai ketua klub lari. Dia menarik napas dalam sambil memejamkan matanya, menunduk sedikit. Sekarang aku hanya bisa melihat rambut cepak hitamnya dari kursiku. Tak lama kemudian dia mendongak, membuka matanya dan memandang lurus kedepan, keseluruh isi kelas.
“ apa tak ada ide yang lebih menarik dan masuk akal untuk pentas seni 3 bulan lagi? “ ucapnya lantang.
Kelas terdiam sejenak, dan keributan kembali terjadi., bahkan tambah buruk. Setiap individu mencurahkan idenya dan tak mau kalah dengan yang lain. Wow, langkah yang salah untuk menenangkan mereka, ketua, pikirku. Pentas seni untuk perayaan berdirinya sekolah kami akan diadakan 3 bulan lagi bertepatan dengan pentas olah raga. Jadi dalam 2 minggu kami akan terbebas dari sekolah dan mengadakan pentas seni dan olahraga di sekolah. Setiap jajaran kelas diberikan tema yang berbeda. Kelas 1 dengan kerajinannya, kelas 2 dengan dramanya dan kelas 3 dengan orkesnya. Tentu saja siswa kelas 3 akan membuka acara itu pada 2 hari pertama, karena mereka harus segera kembali untuk persiapan ujian. Kasihan, pikirku. Dan disinilah keributan terjadi, 7 kelas murid tingkat 2 yang harus mementaskan drama selama 4 hari berturut-turut, dan kami kebagian hari pertama. So.. mereka sibuk menentukan akan menampilkan apa. Akhirnya aku mengangkat tanganku.
“kenapa tidak kumpulkan tema yang ada aja dulu baru judul belakangan” ujarku tenang.
Kelas diam, kemudian ribut sedikit, orang itu melihatku lurus dengan mata gelapnya dan kembali melayangkan pandangan keseluruh kelas.
“ok… makasih masukannya, sekarang… silakan kalian bilang ide kalian satu per satu… temanya saja, tak usah judul, sekretaris, tolong catat di papan” ujar orang itu tenang.
Kelas terdiam kembali, sekarang mereka tidak kembali ribut. Nah, gitu dong dari tadi, pikirku. Seorang siswi berdiri dan berjalan kedepan. Ia mengambil spidol dan bersiap menuliskan ide yang muncul. Hening. Wow… tak kusangka. Aku melayangkan pandanganku keseluruh isi kelas dan kulihat wajah bingung. Oo.. sekarang aku mengerti, mereka memiliki lebih banyak ide dari yang seharusnya.
“ada yang mau menyumbang ide?” ujarnya lagi.
“cerita cinta” ujar seseorang sambil mengangkat tangannya.
“ok… tolong catat” ujarnya menoleh dan kemudian siswi itu mencatatnya.
“horror” ujar seorang lagi.
“komedi” ujar lainnya.
“sejarah” ujar lainnya.
Tak ada lagi yang mengangkat tangannya. Akhirnya sang ketua menoleh dan memperhatikan keempat tema itu dengan seksama. Membacanya dari atas kebawah. Kemudian dia berbalik.
“tolong siapkan kertas dan tulis nama kalian, juga pilih tema yang kalian suka, kita voting sekarang” ujarnya.
Seluruh kelas menurut, ketua kembali, sekretaris juga kembali kekursi masing-masing untuk menuliskan tema yang mereka pilih. Tak lama, tumpukan kertas terlihat dimeja guru. Sang sekretaris menulis dan si ketua membacakan hasilnya. Satu per satu, ku perhatikan jumlah voting terus bertambah, milikku telah dibaca, dan, saat ku perhatikan, kertas terakhir adalah miliknya. Tebak apa yang kupikirkan. Ini akan gawat… -“-
“kertas terkahir… tema cerita sejarah… Leon Fortistert” ujarnya dan segera berbalik.
“hitunglah” ujarnya pada sekretaris.
Dan benar dugaanku, kertas terakhir tadi membuat bencana. Seluruh tema mendapatkan jumlah suara yang sama. Leon bengong, terdiam. Kebetulan yang mengesalkan pikirku, pasti juga terpikir olehnya. Aku tersenyum. Semangat ya, batinku. Selamat berjuang, Leon Fortistert.
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_
TO BE CONTINUED
happy reading...
By : Sansushira Shincishiki Haiiru
_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_(>,<)_


0 komentar:
Posting Komentar